Tuesday, March 20, 2012

Buku Baru : ADDT dan TSJ 1


Alhamdulillah telah terbit 2 buku terbaru saya yang bertemakan TORCH. Bagi rekan-rekan yang hendak memilikinya bisa hub.info pemesanan. Atau bagi yang hanya ingin membaca tanpa memiliki bukunya, silahkan kunjungi blog ini

"Hal yang terpenting bagi seorang penulis adalah kebermanfaatan yang didapat pembaca setelah membaca tulisannya, bukanlah semata-mata untuk komersil berupa materi."

InsyaAllah 100% keuntungan penjualan buku-buku ini diberikan kepada para penderita TORCH.

Aku, Dia, dan TORCH

Tak Sekadar Jalan 1


Atas kerjasamanya saya sampaikan,
salam inspiratif!

Isti Anindya

Thursday, March 15, 2012

Bergabung Bersama ATA INDONESIA

Jika anda membutuhkan manual file untuk mempelajari langkah reservasi dan issued Tiket Pesawat, silahkan download di 4shared.com dengan keyword : Langkah Issued Tiket Ata Indonesia atau silahkan klik ini disini :


Regards,

Isti Anindya

Friday, February 24, 2012

PINGSAN STORY Part 3

Kaliurang KM 25

Malam minggu ini kami sudah merencanakan akan silaturahim ke rumah salah satu dosen. Dalam rangka mencari tahu apa saja yang perlu kami lakukan untuk persiapan pendaftaran S2 Australia. Kebetulan Bu Tuti—begitu panggilan beliau, sedang liburan ke Indonesia. Maka kami manfaatkan waktu yang berharga ini.

Rumah beliau terletak cukup jauh yaitu di kaki gunung Merapi, tepatnya Jalan Kaliurang KM 25. Sebelum berangkat aku sudah berpesan kepada kedua orang sahabatku Mas Eggie dan Mas Ramdhan untuk pulang sebelum magrib. Karena semakin malam pasti akan semakin dingin. Dan aku tidak kuat dengan cuaca yang dingin ekstrim. Bisa-bisa jantungku kumat dan pingsan ditengah jalan.

Merekapun menyanggupinya dan kami berangkat. Aku naik motorku kesayanganku dan mereka berdua berboncengan. Sesampai disana dosen baik hati itu menyambut kami dengan sukacita. Banyak ilmu yang dibagi dan informasi yang didapat. Beliau juga menyampaikan beberapa nasehat kehidupan. Begitulah indahnya silaturahim. Bisa mendapatkan rezeki berupa ilmu bermanfaat.

Diskusipun semakin seru sehingga kami benar-benar lupa dengan waktu. Adzan Magrib menyadarkanku, bahwa diluar sudah mulai gelap. Akupun memberikan aba-aba kepada kedua sahabatku itu. Mereka menggangguk mengerti dan seusai shalat kamipun langsung pamit.

“Kuatkan?” bisik Mas Ramdhan sambil memasang helmnya di parkiran.

“Semoga Mas!” aku ragu menjawabnya. Mas Eggie memberikan isarat kekhawatiran dari wajah lugunya.

Dengan membaca basmallah aku jalankan motor. Sebelumnya aku pastikan bahwa jaket sudah terkunci rapat. Karena memang disana sangat dingin. Beberapa kali meng-gas motor saja aku sudah mengalami kedinginan luarbiasa dan jantungku berdegup sangat kencang. Ujung jalanpun kuraih, tepat dipersimpangan jalan besar. Tiba-tiba kepalaku bergoyang tak karuan. Aku tak bisa lagi menjalankan motor dengan baik. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti.

“Saya ndak yakin bisa turun kebawah Mas!” aku turun dari motor perlahan dan duduk di pinggir jalan besar.

Wajah kedua sahabatku itu panik, seperti mereka menyadari ini akan terjadi jika kami pulang kemalaman. Sedangkan aku sudah tak berdaya. Kepalaku berputar diikuti dengan detak jantung yang tak beraturan. Saat itu benar-benar dingin. Lalu sahabatku itu mencarikan tempat menunggu yang lebih baik. Tepat di depan aku duduk ada sebuah warung. Disana aku dibelikan segelas susu hangat, setidaknya akan membuat keadaan lebih baik. Tapi,

“Tahu apa Tongseng Jamu?” sahabatku memelankan suaranya.

“Ya tongseng yang ada bumbu jamunya?” aku menjawab polos.

“Di Jogja itu, Jamu sama dengan anjing!” aku tersedak, perlahan aku jauhkan segelas susu hangat itu dari mulut. Ah—semoga gelas ini tidak dari warung itu! Bisa-bisa aku terimbas najis.

Beberapa saat datang taksi mendekati motorku yang masih parkir di pinggir jalan. Rupanya sahabat-sahabatku ini berusaha keras menemukan kendaraan yang layak membawaku pulang ke kos. Setengah berbisik aku bicara dengan Mas Ramdhan.

“Aku ndak punya uang buat bayar taksi Mas! Kamu tahu kan?” wajahku mulai panic, sedangkan taksi sudah menunggu.

“Persahabatan itu saling, bukan transaksi!” jawabnya singkat namun penuh arti.

“Ayo Isti segera naik! Biar kami yang mengurus motormu. Dan kami akan mengikutimu dari belakang!” teriak Mas Eggie yang baru saja berbincang sedikit dengan supir taksi.

Akupun bersegera menuju taksi itu dan naik. Aku beruntung memiliki sahabat yang baik seperti mereka. Sahabat yang sangat melindungi. Dinginnya jalan kaliurang tidak lagi menggaduhku. Aku duduk manis di dalam taksi sambil beberapa kali berbincang dengan supirnya.

“Mbak sakit jantung ya?” supir itu mengawali pembicaraan.

“Iya Pak! Saya lemah jantung, sulit sekali mengatasi cuaca sangat dingin. Saya ndak enak sama teman-teman!” balasku.

“Mbak beruntung punya teman baik dan perhatian seperti Mas Mas itu!” supir itupun tersenyum di dalam kaca.

Supir itu benar. Aku sangat beruntung. Tapi juga sekaligus malu karena sudah menyusahkan mereka. Apalagi uang taksinya mereka pula yang bayar. Entah bagaimana cara aku menggantikannya.

Sesampai di depan kos, rupanya Lek Tum sedang menungguku. Beliau sudah sering menemukanku pingsan tak berdaya. Baik itu di kamar kos ataupun saat kawan-kawan mengantarkanku pulang.

“Lah, Mbak Isti Pingsan lagi ya? Lek Tum sudah ada firasat. Makanya menunggu diluar!” perempuan setengah baya yang baik hatinya itu menghampiriku yang baru turun dari taksi.

“Iya Lek Tum, si Isti bandel ini!” teriak Mas Ramdhan sambil memakirkan motorku ke dalam rumah. Sebelum itu dia menyerahkan selembar uang 50.000 untuk membayar taksi. Aku hanya tersenyum pada Lek Tum. Beliau langsung membimbingku ke dalam kamar. Setelah taksi pergi, dua kawan baikku itupun berpamitan. Kalimat yang bisa kuucap hanya, “Maaf aku sudah merepotkan kalian bedua!”. Dari balik pagar keluar suara seperti ini, “Ingat! Persahabatan itu saling bukan transaksi!”

***

Banyak cerita dibalik setiap kejadian. Termasuk cerita pingsan yang terjadi padaku. Ada sesuatu yang indah dibalik sebuah kelemahan. Darisana aku bisa memandang secara penuh tentang persahabatan dan ketulusan. Terlihat mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sekadar berkawan saja. Mana yang bisa menerima, mana pula yang hanya sekadar kenal saja. Semua terbuka satu persatu dan aku telah mampu membacanya.

Pernah aku bertanya kepada dokter, sebenarnya apa yang terjadi padaku. Mengapa aku terlalu sering pingsan? Dokter menyatakan bahwa aku mengidap psikosomatis. Dimana tekanan psikis yang sangat berat mampu merusak fungsi tubuhku. Terutama fungsi jantung karena memang jantungku lemah. Jadi ketika ada respon psikis yang hebat, jantung akan berdebar tak beraturan dan kepala berputar maka saat itulah aku mulai melemah dan akhirnya pingsan. Namun bisa juga karena memang kondisi tubuh yang tidak kuat atau kelelahan. Atau memang jantungku tidak kuat menghadapi cuaca dingin ekstrim. Alasan itu aku simpan baik-baik sebagai modal penjagaan diri dimasa depan.

Sekalipun aku tidak ingin menunjukkan betapa lemahnya aku. Namun, terkadang memang aku kesulitan mengendalikan diri dan menahan semuanya. Seringkali sebuah masalah aku simpan sendiri. Meskipun banyak orang tahu bahwa aku sangat suka berbagi cerita dan masalah. Tapi, ada hal-hal yang mereka tidak mengetahuinya. Ada sesuatu yang tetap aku simpan baik dan terkadang itu yang membuat sangat menyakitkan. Terkadang ingin aku melepaskannya, tapi seringkali kebingungan menghampiriku. Bagaimana caranya?

Dokter juga menasihatiku untuk selalu berusaha menjaga kondisi secara fisik dan piskis. Karena jika terjadi pergolakan yang cukup besar, itu bisa mempengaruhi jumlah virus yang bersemayam dalam tubuhku. Semakin besar tekanan psikis dan parahnya kondisi fisik maka semakin merajalela virus mengrogoti sel dalam tubuhku. Bisa jadi hanya sel yang mampu beregenerasi yang dimakannya, tapi bisa juga sel-sel yang penting dan jika dimakan maka tamatlah riwayatku!

Tapi itu sudah tak jadi masalah bagiku. Kematian itu sudah sangat jelas, hanya menunggu waktu. Ketika aku memikirkan tentang sakit ini terus dan terus, maka aku akan menghabiskan sisa waktu yang ada. Lebih baik aku sibukkan untuk memikirkan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Memikirkan hal-hal baik yang bisa kulakukan sebelum jatah hidupku habis. Suatu kali aku pernah berujar seperi ini kepada seorang kawan.

“Kamu tahu mengapa aku seringkali ‘lebay’ dalam sebuah pertemanan? Karena aku tulus menyayangi kalian semua, tanpa ada konspirasi ataupun keterpaksaan. Aku menyayangi kalian dengan satu harapan. Harapan itu adalah ketika aku meninggal nanti maka banyak orang yang akan mendoakanku dan banyak pula yang merasa kehilangan. Maka dengan itu kita tahu bahwa selama hidup kita sangat berarti dihati banyak orang.”

***

Thursday, February 23, 2012

PINGSAN STORY Part 2


Andai saja aku bisa bertahan beberapa menit lagi!

17 April 2011, Parangtritis. Pukul 11.00.
Aku duduk dengan benar—ya dengan benar. Penuh semangat aku sambut kawan-kawan yang hendak menyampaikan buah pikiran mereka. Baru satu presenter, dudukku sudah tidak benar. Aku merasakan sensasi bergoyang dan melayang. Aku tahan sekuat-kuatnya—ya aku tahan.
Aku coba mengalihkan fokus, aku berjalan kesana kemari, berharap sensasi itu menghilang dan mereda. Aku senangkan hatiku, aku dengarkan dengan baik buah pikiran yang disampaikan. Semakin riuh suara maka semakin bergoyanglah aku. aku tahan—ya aku tahan.
Aku lakukan ini karena aku punya "passion" yang besar untuk melakukannya. Energi besar dalam tubuhku, aku kuras sekuat-kuatnya. Sehingga yang kutampakkan keceriaan dan semangat. Dan aku lupa siapa aku, bagaimana seharusnya aku, dan apa akibatnya jika aku lupa siapa aku. Aku buang perasaan itu jauh-jauh, yang kupikirkan hanya bagaimana membuat orang senang dengan kondisi ini. Dan yang kuharapkan semua berjalan baik-baik saja. Meskipun terkadang aku harus berjalan pelan dan hati-hati. Selalu aku men-sugesti dalam hati : Aku kuat, aku bisa, aku kuat! Begitu berulang-ulang.

Pukul 13.00
Aku masih menahan, masih mengeluarkan senyum, masih tertawa, aku kesana kemari untuk mengalihkan fokus pada sensasi bergoyang itu. Aku ikut masuk dalam siang itu bersama mereka, merasakan kelelahan dari wajah mereka, merasakan kegalauan dari raut mereka, dan turut merasakan tawa dari bibir mereka. Semua aku kumpulkan dalam satu ruh, aku masukkan dalam hatiku. Aku kuatkan kaki, maka aku kesana kemari. Sekali lagi aku mengalihkan fokusku dari rasa yang kutahan sejak kemarin sebenarnya.
Aku berbohong pada diriku dan itu kulakukan berkali-kali. Aku membuat diriku begitu kuat, karena memang aku tidak ingin dipandang lemah. Tapi aku banyak mengeluh, menangis yang menyusahkan hatiku, bahkan juga hati kawan-kawanku. Aku hanya ingin didengar, itu saja. Dengarkan dengan baik keluhanku, lalu tenangkanlah aku. Tapi?—ah, aku tidak bisa memaksakan orang lain melakukan itu padaku. Memang lebih baik aku simpan dalam-dalam, namun terkadang harus aku hempaskan, apakah itu dengan menangis ataupun menulis.

Pukul 15.30
Ototku mulai kaku, dimulai dari pundakku. Aku teringat bahwa aku divonis Spasmofilia, ah sudah!—aku lupakan itu, buang jauh-jauh dan aku berjalan, tertawa mengalihkan fokusku. Aku sehat, aku bisa bertahan, ini sudah diakhir kegiatan. Aku berjalan ke arah kamar, semakin mendekati pintu, aku merasakan kakiku mulai berat, sakit, dan kaku. Aku tidur, aku tenangkan dengan berdzikir, aku tarik napas perlahan. Aku sugestikan untuk aku tetap bertahan.
Aku menangis, aku menangis menahan rasa yang sudah menjalar semakin jauh. Sensasi bergoyang semakin aku rasakan, aliran darahku semakin cepat. Dadaku sesak dan aku kembali berdzikir dan aku kuatkan, aku sugestikan, aku berusaha mengikhlaskan apa yang terjadi padaku, aku pasrahkan penyelesaiannya pada Yang Maha Menyembuhkan. Aku bertahan, lalu aku mendengar suara-suara—tidak jelas! Semakin berusaha aku memperjelasnya, maka semakin bergoyanglah rasanya ruangan kamar saat itu. Aku berusaha membalas suara itu, semampuku. Jantungku mulai berdebar, kencang sekali.

Dan…

18.00
Aku malu menatap diriku yang terlalu manja ini, terlalu lemah tidak mampu menahan sebentar saja. Pastilah sudah banyak yang dirugikan karena keegoisanku yang tidak sabar menahan menunggu waktu. Aku telah menyusahkan banyak orang, saat itu aku tak memikirkan hati-hati yang berempati, tapi hati-hati yang gusar karena mungkin merekapun lelah sepertiku, tapi mereka kuat bertahan. Ahhh—aku terlalu manja, aku malu pada mereka. Aku malu atas ke"egois"anku. Andai saja, aku bisa menahan, setidaknya untuk mereka, memikirkan mereka yang nanti akan tersulitkan olehku. Dan ternyata—Ya, aku menyusahkan mereka!
Ya Rabb, hamba memohon ampun atas ketidakmampuan hamba menahan dan akhirnya hamba menjadi asbab kesulitannya saudara hamba. Ya Rabb, hamba memohon ampun jika apa yang terjadi kemarin hanyalah bentuk kelemahan dan kemanjaan hamba. Sungguh, hamba telah menahan sekuat dan semampu hamba ya Rabb, limpahkan berkahMu untuk mereka yang telah meluangkan waktu mendengarkan hamba dan menghabiskan waktunya untuk bersama hamba.

***

Beberapa hari setelah tragedi pingsan itu aku mendapatkan cerita versi lengkap oleh Sisca teman satu tim dalam kegiatan TORCH Camp yang kami adakan 17 April di Parangtritis. Selain itu aku juga dapat cerita dari beberapa adik angkatan yang mengantarkanku sampai ke kos saat itu.
“Waktu itu aku mau manggil Mbak ke kamar soalnya acara sudah mau selesai. Tapi yang aku dapati Mbak kesakitan diatas kasur. Aku bingung banget, aku tanya Mbak nggak jawab. Sampai akhirnya aku minta Adit yang nutup acara dan balik lagi. Nah saat itu Mbak Isti sesak napas, spontan aku pegang denyut nadi ditangan. Waktu itu aku sulit dengarnya Mbak, lantas aku benar-benar panik dan manggil yang lain. Aku pegang tangan Mbak lagi, dingin banget dan denyut nadinya lemah. Sampai akhirnya Mbak benar-benar tidak sadarkan diri. Akhirnya Mbak Dini yang bawa mobil balik lagi buat jemput Mbak. Begitu kronologisnya!” cerita Sisca membuatku tercengang-cengah, sebegitunyakah?
“Terus ya Mbak, pas didalam mobil tiba-tiba Mbak kebangunan dan bergumam kayak orang kesakitan. Terus kita pegang tangan Mbak Isti, dingin dan Mbak pegang kuat-kuat kayak orang kesakitan. Sambil bergumam ‘jantungku’ berkali-kali. Kita jadi panik dan nelpon Adit mungkin dia tahu riwayat sakit Mbak. Saat itu kita mau bawa ke Rumah Sakit. Tapi Mbak larang, karena waktu itu kata Mbak jangan sampai orangtua tahu. Ya Akhirnya kita bawa ke kos aja Mbak!” kini cerita Vitri membuatku benar-benar merasa bersalah.
Andai saja waktu itu aku bisa bertahan lebih lama, pastilah adik-adik angkatanku itu bisa ikut ujian response tepat waktu. Gara-gara aku mereka jadi tidak siap menghadapi ujian. Ahh!—memang aku hanya bisa menyusahkan orang. Akupun diliputi rasa bersalah. Apalagi gara-gara itu aku tak bisa memenuhi amanah kegiatan TORCH Camp sampai selesai.
Akupun mulai bertanya dalam hati, sebenarnya ada apa dengan tubuhku? Bukankah saat terakhir aku ke dokter syaraf beliau sampaikan bahwa kondisiku baik-baik saja. Apakah ada sesuatu yang aku belum tahu? Tidak bisa aku membiarkan kondisi seperti ini terus. Mau berapa kali lagi aku pingsan dan mau berapa banyak orang yang susah karenaku? Aku harus segera cari tahu!

***




PINGSAN STORY Part 1

Aku tidak pernah paham sebenarnya pingsan itu apa. Jika orang bertanya padaku bagaimana rasanya pingsan? Akupun bingung menggambarkannya. Bagiku pingsan itu antara sadar dan tidak sadar. Tapi pernah pula aku pingsan namun tak merasakan sama sekali. Riwayat pingsanku cukup banyak dengan pelbagai kisah didalamnya. Biasanya setelah pingsan, orang yang bersamaku akan bertanya dan saat itu juga aku balik bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Maka inilah beberapa kisah tentang ‘tragedi pingsan’ yang pernah aku alami selama menderita TORCH.

***

FLP : Kepanikan Menuju Sardjito.

Langit sore membumbungkan senja sebentar lagi. Aku tetap memaksakan diri untuk datang ke forum selasa, karena ada sesuatu yang harus aku serahkan kepada Mbak Ayu kawan satu divisi. Seharian aku tidak kemana-kemana, badanku lemas dan panas. Beberapa mata kuliahpun harus aku relakan berlalu begitu saja tanpa surat izin. Karena memang tidak ada yang bisa membantu mengantarkan surat saat itu.

Motor terseok-seok berjalan menuju Bailarung. Mulutku komat-kamit menguatkan diri. Jika aku tak mengantarkan itu, nanti akan sangat merepotkan. Pikirku saat itu—ah palingan sebentar saja, setelah aku serahkan nanti aku langsung pergi! Tapi itu tak seperti dugaanku. Meskipun aku datang dipenghujung forum, dimana semua orang sudah pulang, dan hanya tersisa para pengurus saja. Tiba-tiba salah seorang teman satu divisiki mengajak mengobrol. Dia ingin curhat padaku, saat itu aku benar-benar tak kuasa menolak. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia bagi. Akupun mengikutinya dan mendengarkan ceritanya dengan seksama. Sampai langit benar-benar menjadi kelam dan adzanpun berkumandang.

Tiba-tiba aku merasakan denyut jantung yang tidak beraturan, kadang cepat kadang melambat. Hawa senja menusuk sendi dan saraf diotakpun mulai bergejolak. Aku berjalan pelan bersama Flo, teman yang tadi curhat denganku. Kepalaku semakin tak karuan rasanya. Aku tahan ekspresi baik-baik agar Flo tidak curiga bahwa aku sedang diujung kelemahan.

Saat semua itu berkecamuk menjadi satu, Helmi kawanku mengampiri dengan sepedanya untuk berpamitan dan akupun tak bisa melepaskan mata dari roda ban sepedanya yang berputar, maka saat itu semakin berputar pula kepalaku. Sampai hingga pagar akupun mulai oleng. Flo yang menyadari itu menawarkan dirinya membawa motorku. Akupun menyerahkan kunci kepadanya, dan…

“Bruaaak!”

***

Bau ruangan ini sangat khas! Mataku masing setengah memicing. Namun telingaku sudah bekerja beberapa menit yang lalu, mendengarkan situasi dalam ruangan itu. Bising dan padat! Ada suara germicik roda, ada gesekan sepatu dan lantai, serta suara-suara yang menyebut namaku.

“Aku di UGD ya Flo?” tanyaku lirih sambil berusaha membuka mata penuh.

“Iya Isti, kamu pingsan! Alhamdulillah sudah sadar. Kata dokter asam lambung kamu naik dan bikin jadi sesak makanya pingsan. Kamu belum makan ya?” Flo sangat panik saat itu, wajah merahnya semakin merah.

“Aku memang belum makan malam Flo, seharian tadi aku bedrest karena nggak enak badan.” Jelasku pelan.

“Haduuuh, kamu itu selalu memaksakan keadaan. Kalau memang sakit biar aja tadi aku yang jemput titipan Mbak Ayu ke kos kamu!” aku tersenyum dan berusaha memulihkan keadaan.

“Jam berapa sekarang Flo? Aku belum shalat magrib!”

“Sudah magrib Sti, kamu tayamun aja dan shalat sambil tiduran.” aku mengagguk dan segera menunaikan shalat, karena sekalipun pingsan aku tak mau ketinggalan shalat.

Setelah dokter memberikan obat dan Mbak Iwul mengurus administrasinya. Akupun segera dibawa pulang oleh mereka. Langkahku dituntun perlahan keluar dari ruangan UGD dan diluar sudah banyak yang menunggu. Tepatnya Mas-mas FLP yang saat kejadian ada disana. Ah, saat itu betapa malunya aku. Betapa sudah menyusahkan mereka semua. Hanya kata-kata, “Maaf saya menyusahkan!” saja yang bisa aku ucapkan saat itu.

Aku berjanji pada diriku untuk lebih pandai mengontrol diri. Jangan sampai aku menyusahkan banyak orang. Cukuplah rasa sakit ini aku miliki sendiri. Tidak lantas aku bagi dengan yang lain. Tapi disini aku memahami sesuatu, bahwa persaudaraan itu mampu melahirkan perhatian berbalut ketulusan. Betapa beruntungnya aku bersama mereka saat itu. Orang-orang sholeh yang saling menjaga satu sama lain.

***

Kos Al Mawaddah : Tergeletak karena sebuah pengkhianatan.

Ba’da Ashar aku menemui seorang kawan baru di kosnya. Kami berbincang cukup lama, sampai hujanpun tak terdengar. Banyak hal yang ia sampaikan padaku, tentang sebuah cerita masa lalu. Setelah menyadari bahwa magrib sebentar lagi dan saat itu aku sedang puasa senin, akupun segera berpamitan. Aku putuskan untuk menantang hujan.

Saat aku hendak memasang mantel. Teman baruku itu berujar sesuatu yang agak mengejutkan. Saat itu aku berusaha menenangkannya yang mulai menangis. Untuk meyakinkannya tentang sesuatu. Lalu aku sampaikan,

“Jangan sampai apa yang telah kita bagi bersama ini diketahui oleh beliau. Kita harus hargai beliau, karena beliau juga pantas mendapatkan ketenangan hidup. Dan saya tidak ingin menjadi asbab rusaknya kehidupan orang lain.” kawanku itu mengangguk.

Masalah itu menurutku cukup berat. Aku menemuinya untuk mengklarifikasi fitnah yang tengah menyebar dengan membawa-bawa namaku. Ternyata setelah bercerita banyak, aku tahu siapa sumbernya dari kawan baruku itu. Oleh karena itu aku memohon padanya untuk tidak mengusik kehidupan laki-laki yang menjadi tersangka fitnah. Aku tak mau gara-gara aku beliau menjadi frustasi. Padahal apa yang dituduhkan adalah fitnah belaka. Aku tahu kawan baruku itu sangat mencintai laki-laki yang difitnah bersamaku. Aku minta padanya untuk merelakan semuanya. Dan aku tidak seperti apa yang dituduhkan banyak orang.

Beban fitnah itu sangat luarbiasa sakitnya. Sampai aku sempat sakit selama 1 minggu. Tidak masuk kuliah, hanya datang saat praktikum saja. Mengapa sampai hatinya ada yang mem-fitnahku, padahal aku tidak kenal dengan orang yang memfitnahku itu. Berawal dari sebuah salah paham biasa. Kawan baruku itu menyukai laki-laki yang sedang digosipkan dekat denganku. Bukan hanya sekedar gossip belaka ternyata, tapi itu sudah jatuh pada fitnah yang mendunia! Banyak yang tahu dan banyak pula yang mencercaku. Seakan-akan aku yang mengakibatkan itu semua, padahal aku tak tahu menahu sebelumnya. Mengapa namaku jadi terseret?—ah kadang kehidupan itu benar-benar seperti sinetron.

Ini adalah ujian untukku. Ujian mengikhlaskan sesuatu terjadi padaku. Meskipun saat itu sangatlah mengacaukan produktifitasku sebagai seorang makhluk. Sampai pada sebuah pengkhianatan kawan baru itu. Pengkhianatan yang sangat kecil aku pikir tapi dampaknya cukup besar.

Dia menghubungi laki-laki itu dan terjadilah prahara, saat laki-laki itu salah paham padaku. Beliau pikir aku akan mengacaukan semua ini. Setelah beliau mengirim pesan singkat, beliaupun menelponku. Dadaku berguncang hebat, aku tak kuat menghadapi masalah yang akan terjadi. Aku acuhkan saja telepon itu. Dan aku tunaikan shalat magrib setelah aku batalkan puasa dengan segelas airputih. Selepas salam aku merasakan sesak dan sakit kepala yang mendadak begitu saja. Masih sempat aku meraih ganggang pintu kamar dan…

“Isti, Isti lo kenapa? Aduh dia pingsan lagi!” suara Hanny terngiang samar dikepalaku, makin lama makin hilang.

Memang benar, ternyata aku pingsan. Saat itu sudah berkumpul beberapa teman kos. Ini bukan kali pertamanya aku pingsan di kos. Cukup sering! Dan menurut mereka ini cukup parah. Aku hampir saja dibawa ke rumah sakit. Tapi aku kuat-kuatkan diri dan menceritakan asbabnya kepada Hanny. Sesaat setelah itu kawanku yang mendengarkan kabar aku pingsan datang. Wiwit membawakan sesuatu untukku dan memastikan aku baik-baik saja. Ternyata Wiwit diminta oleh kawan baruku itu untuk melihat kondisi terkini.

Sebuah pengkhianatan kecil yang merapuhkanku. Sejak dulu aku benci sekali dengan pengkhianatan. Rasanya sangat sakit ketika kita memberikan kepercayaan kepada orang lain, lalu dia menjual kebanyak orang kepercayaan itu. Makanya aku sudah muak untuk berbagi dengan siapapun, kalau ujung-ujungnya akan dikhianati. Dan pengkhianatan ini tidak hanya saat itu saja. Setelah itupun lebih bertubi-tubi. Pengkhianatan yang paling sakit ketika yang mengkhianati kita adalah orang terdekat. Rasanya jika itu dalam bentuk luka. Bekasnya masih ada sampai sekarang. Karena memang luka pengkhianatan itu sangat dalam.

***

Tuesday, February 21, 2012

BANDUNG DAN SEBUAH RENCANA

Satu bulan sebelum Ramadhan di tahun 2011

Tekadku sudah sangat bulat untuk berangkat ke Bandung besok sore. Niat untuk mendaftarkan diri dalam program pesantren Darruth Taudid (DT) sudah mencapai 100%. Tempat tinggal selama disanapun sudah dibooking jauh-jauh hari. Seorang kenalan yang baik hati bernama Asthi. Bermodal nekat dan tekad aku berangkat. Rencananya setelah beberapa hari di Bandung aku akan meneruskan petualangan ke Sukabumi. Dalam rangka silaturahmi ke rumah sahabat yang baru saja melahirkan. Maka perjalananpun dimulai.

Bus Budiman melaju meninggalkan Terminal Giwangan. Seorang sahabat dengan kebaikan hatinya telah menularkan trik naik bus yang aman. Kalau saja tidak diberitahu terlebih dahulu mungkin masih ada keraguan untuk berangkat. Secara ini adalah perjalanan pertamaku naik bus ke Bandung. Bus ini memang nyaman dan penumpang dapat kesempatan makan di tempat yang mereka sediakan.

Perjalanan malam yang sepi. Bermodal hanya sebuah ransel aku menyusuri jalanan menuju Jawa barat. Ini benar-benar petualangan sebenarnya! Teliti aku memperhatikan setiap daerah yang dilalui. Dari Karanganyar, Kebumen, Gombong, Cilacap, Ciamis, Banjar, hingga sampai memasuki Terminal Cicaheum Kota Bandung paa pukul 4 dini hari. Tidak ingin merepotkan Asthi, akupun menanyakan kendaraan apa yang bisa aku naiki untuk sampai di kawasan UNPAD Dipatiukur. Diapun memintaku mencari judul trayek “Cicaheum-Ciroyom”, dengan percaya diri dan tanpa ragu-ragu akupun menaiki angkot tersebut yang melintas di depan terminal. Berbekal logat sunda yang sedikit kupelajari dan wajah yang yakin aku beranikan diri menaikinya—ya semoga saja mamang angkotnya menyangkaku mahasiswa Bandung.

Sesampai di tempat janjian antara aku dan Asthi, aku segera menghubungi karena memang tempat itu sangat sepi, maklum masih pukul 4 dini hari. Dan aku merasa familiar dengan tempat itu karena dulu Bapakku kuliah di UNPAD juga dan diwisuda di Dipatiukur. Selain itu dulu aku pernah menemani sahabatku Dhita tes D3 UNPAD disini. Beberapa menit aku menunggu, Asthipun muncul. Ini sangat lucu! Aku hanya berkenalan dengannya lewat facebook. Kebetulan dia adalah tunangan dari teman lamaku. Hanya berbekal percakapan dijejaring sosial, aku beranikan diri memohon kesediaannya menampungku 3 hari ke depan di Bandung. Dan, diapun dengan senang hati menyambutku. Maka saat inilah pertemuan kami secara langsung! Setelah saling berkenalan, dia segera membawaku ke tempat tinggalnya. Sambil aku mengutarakan maksudku datang kemari dan tempat apa saja yang akan kutuju.

***

Malam ini adalah Malam minggu, juga malam pertamaku di Kota Bandung. Kami memutuskan untuk ‘Mabit’ di DT. Karena aku memang sudah tak sabar lagi untuk menikmati ketenangan di lingkungan Pesantren yang salah satunya didirikan oleh muslimah yang aku idolakan yaitu Teh Ninih. Kebetulan juga memang Asthi seringkali ‘Mabit’ disana disetiap malam minggu.

Sesampainya di DT, aku terkesima. Tidak seperti apa yang aku bayangkan selama ini. Ternyata DT adalah Pesantren kerakyatan, dimana masyarakan setempat ikut berbaur menjadi satu. Kawasan ini benar-benar menyejukkan hati. Setiap jam sholat maka seketika aktivitas apapun berhenti. Termasuk jual-beli yang banyak disana. Karena di DT banyak dibuka usaha waralaba yang melibatkan masyarakat. Selain itu memang daerah Geger Kalong merupakan dataran tingginya Bandung, jadi lebih sejuk udaranya.

Tidak ingin terlena akan suasana yang elok. Akupun segera mencari tempat pendaftaran untuk program ‘Bimbingan Intensif Muslimah’. Rencanaku seusai wisuda, ingin nyantri disini sampai ada pembukaan kuliah S2 di UGM. Jadi sambil menunggu ada sesuatu yang bermanfaat yang aku lakukan. Alhamdulillah, orangtua sudah menyetujui rencana ini dan uangpun sudah kuperoleh dari hasil penjualan motor. Setelah mendaftar, ada sebuah kelegaan dan harapan. Ada bayangan apa saja yang nanti aku lakukan setelah menjadi santri disini. Setiap sudaut DT aku perhatikan dengan kebahagiaan, karena aku tahu bahwa 25 september besok akan resmi menjadi santri pesantren ini.

***

Tujuan utamaku telah tersampaikan. Saatnya kini memenuhi janji silaturahmi ke Sukabumi. Ini untuk pertama kalinya aku ke kota film ‘Keluarga Cemara’ itu. Sudah jauh-jauh aku niatkan untuk mengunjungi sahabatku Teteh Karina yang baru saja melahirkan putra pertamanya. Perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa, karena ada cerita unik bertabur kesabaran dan keyakinan terhadap pertolongan Allah.

Sabtu siang di Terminal Cicaheum, Bandung.

Asthi mengantarkan sampai ke Terminal. Referensi bus yang harus aku naiki sudah ditangan. Namun bus yang dimaksud tak kunjung tiba, pahal hari sudah semakin sore.

“Anjur Bumi! Anjur Bumi!” seorang kenek bus berteriak didekat pintu masuk busnya.

“Mbak, naik itu aja gimana? Kayaknya ke Sukabumi ntar lewat Cianjur. Coba kita Tanya yuk! Daripada kita lama menunggu bus yang direkomendasikan teman Mbak, mendingan naik yang itu!” Asthi mengajakku menuju bus yang sebenarnya akan memprihatinkan itu. Tapi tak apalah, daripada aku disini terus menunggu bus yang belum pasti datang.

Ternyata benar, bus itu berhenti terakhir di Sukabumi. Cukup dengan membayar 12 ribu saja. Aku pilih duduk dibarisan paling depan dekat seorang ibu yang membawa tas besar. Rupanya setelah berkenalan ibu itu seorang penata rias. Waktu kuhabiskan lebih ari 30 menit untuk menunggu kapan bus omprengan ini akan berangkat.

Bau rokok sudah memenuhi rongga hidungku. Tapi inilah ujian kesabaran, namanya juga backpacker, harus sedikit ada perjuangan agar perjalanan berkesan. Setelah hampir satu jam, buspun berangkat. Untungnya aku duduk dekat jendela, jadi setidaknya bisa merasakan kesejukan, daripada yang lain sibuk mengipasi diri. Banyak tontonan kehidupan yang aku saksikan didalam bus itu. Dari penjaja makanan sampai seorang ustadz yang berceramah dan diakhir ceramahnya meminta uang seikhlasanya, kurang lebih seperti pengamen. Tapi ini versi religi, miris juga melihat dakwah menjadi matapencaharia utama. Khawatirnya niat berdakwah bukan lagi untuk mencari redho Allah semata, tapi telah berorientasi pada uang.

Perjalanan sore itu benar-benar perjalanan yang sangat panjang. Umumnya Bandung-Sukabumi ditempuh selama 3 jam. Tapi dengan bus ini dapat tertepuh lebih dari 6 jam. Mengapa? Karena berhenti alias nge-tem nya terlalu lama. Agak menyesakkan namun banyak pelajaran hidup yang didapat didalam bus ini. Pelajaran untuk mensyukuri hidup. Ternyata banyak masyarakat Indonesia ini yang hidup memprihatinkan. Jika bukan kita yang melihat dan berempati, siapa lagi? Apakah perlu kita tunggu pejabat-pejabat Negara menaiki bus macam ini dan merenungi nasib bangsa? Aku pikir itu cukup mustahil terjadi secara kolektif, tapi secara pribadi semoga masih ada yang tergerak.

***

Silaturahmi di kota moci ini cukup sukses. Ada cerita yang dibagi bersama sahabat, meskipun hanya semalam aku disana. Perjalanan pulang saat itu lebih luarbiasa lagi. Disinilah aku benar-benar belajar tentang keyakinan terhadap kuasa Allah.

Sukabumi, minggu siang diantara bus yang tak kunjung datang.

Tak ada satupun bus menuju Terminal Cicaheum, semuanya menuju Leuwi Panjang. Apa boleh buat daripada aku ketinggalan bus ke Yogyakarta yang berangkat pukul 18.00 lebih baik aku naik bus tujuan Leuwi Panjang dan setelah itu baru menymbung ke Cicaheum. Karena bus Budiman tujuan Yogyakarta hanya ada di Cicaheum. Bismillah! Aku berangkat menggunakan bus yang jauh lebih baik dari bus saat aku berangkat. Ber-AC dan ada TV pula. Santai aku menikmati perjalanan. Kadang menonton, kadang terlelap.

Perjalanan berjalan tanpa hambatan. Namun ketika hampir dekat dengan Padalarang, ibu disamping menanyakan tujuanku. Aku sampaikanlah maksud dengan sejelas-jelasnya. Atas saran ibu itu aku sebaiknya turun di Padalarang dan naik bus yang tujuan Cicaheum dari perempatan Tol Padalarang. Dan akupun mengikuti sarannya. Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan! Setelah aku bertanya ke beberapa orang yang ada disana, mereka umumnya mengatakan sulit darisini ke Cicaheum, apalagi sudah pukul 5 sore. Tradaang! Akupu terperangah dan merasa benar-benar ‘Lost In Padalarang’.

Senja semakin merekah dilangit Padalarang. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Padahal Bus jurusan Yogyakarta akan berangkat satu jam lagi. Lantas bagaimana caranya aku sampai kesana dalam hitungan satu jam? Apalagi informasi dari orang sekitar, daerah Pasteur macet. Akupun mulai galau, ya ini yang namanya kegalauan tingkat tinggi.

Saat itu benar-benar tak ada harapan lagi untuk sampai di Cicaheum sebelum jam 6. Padahal Asthi sudah menungguku disana, karena dia membawakan beberapa barang yang sengaja kutinggal di Bandung. Dalam ke-nyaris-putusasaan itu aku merenung dan selalu mengulangi kalimat ini, “Jika Allah redho dan izinkan aku untuk balik ke Yogyakarta sore ini maka apapun yang mustahil akan terjadi. Jika tidak, maka aku harus menerima dengan ikhlas dan merencanakan menginap semalam lagi di Bandung.”

Tapi entah mengapa saat itu aku yakin akan pulang ke Jogja. Dengan wajah lesu aku berjalan menuju kantor polisi yang sangat dekat dari tempat menunggu bus. Dalam benakku saat itu tidak lagi memikirkan bagaimana bisa pulang ke Jogja, tapi bagaimana cara sampai ke Kota Bandung. Senja mulai menghilang dan gelappun siap menggantikan. Saat kegalauan menghantuiku, tiba-tiba seorang perempuan muda mengajakku berbincang. Ternyata dia senasib denganku, butuh kendaraan menuju kota. Kebetulan dia orang Bandung, menurutnya memang jam segini mustahil dapat bus. Nama perempuan itu Murni, dia mahasiswa Padjajaran yang sedang magang di Padalarang. Dia memberikan sebuah solusi untukku,

“Bagaimana kalau kita naik mobil illegal itu Mbak? Bayar 5000 aja, nanti kita turun dekat Pasteur. Darisana Mbak nanti naik angkot, turunnya bareng saya aja. Karena kebetulan depan gang rumah saya angkot jurusan Caheum-Royom lewat. Mau kita coba? Soalnya saya juga takut naik mobil itu sendirian.” Serasa ada air es yang mengguyur panasnya otak. Saat itu juga rencana itu kami jalankan. Dan dalam ketegangan ‘akankah aku sampai tepat waktu’? Namun pesan dari Asthi cukup menenangkan, ketika ia sampaikan bahwa Bus Budiman bersedia menungguku sampai jam 7 malam saja. Sedangkan ini sudah pukul setengah 7. Dalam angkot aku berdoa, semoga Allah redho dengan niat kepulangannku ke Jogja. Maka dengan izinNya dalam kekalutan hati, aku sampai! Seperti disinetron-sinetron, aku datang dibatas waktu. Namun keyakinan telah menguatkanku. Ketika kita yakin dengan takdir dan kehendak Allah, maka Allah akan sampaikan. Itu pasti! Karena janji Allah itu pasti!

***

TORCH : Sebuah Ide Mahal Part 2

Semester padat sekaligus menyenangkan untukku. Tanggungan kerja praktek dan seminar telah tertunaikan dengan baik. Keberuntungan tengah berpihak padaku, berkah dari kerja praktek yang membawaku kepada seminar yang memuaskan. Awalnya adalah sebuah ide iseng yang aku dapatkan waktu kerja praktek. Tentang sebuah penelitian yang menggunakan sampel darah penerita TORCH. Sambil menyelam minum susu. Bahagianya lagi dosen pembimbing menyambut baik usulan penelitian itu. Akhirnya aku dan partnerku Bakti Kurnia Putri mulai merencanakan jadwal penelitian bersama, dia meneliti tentang Toxoplasmosis dan aku tentang Cytomegalovirus.

Mulailah pencarian referensi pustaka di Perpustakaan Kedokteran Gadjah Mada. Atas nama semangat 45 hujan badai kala itu tetap kami terjang untuk sebuah target selesainya penelitian ini. Meskipun saat disana ada sedikit adegan diskriminatif terhadap kami anak Fakultas Biologi. Seorang penjaga pustaka bagian jurnal dan karya ilmiah meragukan kredibilitas kami dalam penelitian yang mengangkat tema TORCH. Bagi mereka yang pantas meneliti itu adalah anak kedokteran. Sempat pula dengan tatapan sengit penjaga itu berkata seperti ini :

“Siapa nama pembimbing kalian? Biar nanti saya hubungi untuk memastikan kalian benar-benar meneliti tentang ini. Emang bisa ya anak biologi meneliti tentang penyakit?” saat itu aku hanya tersenyum geram dan tidak menanggapi ibu bermulut pedas itu.

Kami benar-benar merasa diremehkan saat itu. Tapi ya sudahlah, yang jelas kami akan membuktikan kalau penelitian ini dapat disetarakan dengan penelitian kedokteran dan kalau bisa lebih baik dari itu. Semangat pun kembali menggebu. Aku menghabiskan hari-hari di laboratorium dan mencari sampel dari pelbagai relasi. Umumnya sampel kami dapatkan dari kawan-kawan manusia yang terinfeksi Toxo dan CMV. Pastinya termasuk darahku sendiri.

Penelitian ini bukan hanya sekadar tugas belaka. Ada sebuah nikmat berbagi di dalamnya. Ketika aku bertemu dengan beberapa penderita, mendengarkan cerita mereka dan berbagi suka duka.

Ada seorang kenalan bernama Mbak Hanif, mahasiswa keperawatan. Beliau sudah cukup lama menderita CMV dan telah berobat dimana-mana. Namun belum jua tampak kesembuhan. CMV nyaris membutakan matanya, namun sosok gadis itu tetap tegar dan bersedia membantu dalam penelitian ini. Mencari seseorang yang terinfeksi TORCH tidak terlalu sulit. Namun meminta mereka untuk berkontribus bukan perihal mudah.

Banyak penderita yang menutup dirinya terhadap kenyataan bahwa mereka menderita TORCH. Banyak pula yang tidak mau tahu dengan yang lain, mereka hanya memikirkan bagaimana cara mereka untuk sembuh. Maka penolakanpun terjadi. Menurutku itu adalah hal yang sangat wajar. Tidak mudah merelakan sesuatu yang buruk. Fenomena yang terjadi di Indonesia dalam hal kesehatan bukanlah semata-mata karena faktor ekonomi dan buruknya pelayanan. Ada satu faktor yang menjadi penentu utama yaitu kesiapan menerima diagnosa.

Secara psikis manusia umumnya memiliki masalah dalam hal penerimaan nasib. Apa yang didapatkan belum tentu itu yang diharapkan dan itu yang menjadi pencetus utama stress. Seperti pada kasus TORCH, banyak yang ingin memeriksakan diri sejak dini tapi keinginan itu dikikis oleh rasa ketidaksiapan ketika nanti benar-benar terinfeksi. Hal tersebut pula yang menjadi alasan mengapa para pasien TORCH mengalami perubahan secara psikis yang sangat jelas. Antara lain sikap penolakan terhadap hal-hal yang bisa mengingatkan mereka kepada penyakit tersebut. Adapula yang menjadi lebih tertutup karena merasa menjadi makhluk yang paling menderita. Bahkan ada juga yang berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena sudah tak kuasa menahan beban penyakit.

Padahal sebenarnya hal yang paling penting adalah penerimaan. Jika kita menerima suatu takdir dengan baik dan bertekad untuk tetap bertahan maka penyakit seganas apapun akan dengan mudah kita taklukan. Namun itu pulalah yang sulit dan butuh proses. Karena terinfeksi TORCH bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh.

Pasien-pasien yang kami ambil sampelnya merupakan orang yang memiliki penerimaan yang baik. Bahkan mereka siap untuk mendukung setiap tindakan sosial yang berkaitan dengan infeksi ini. Akupun sekali lagi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik dalam penelitian ini. Berusaha maksimal dan bersungguh-sungguh, mka Allah akan memudahkan.

***

Beberapa hari lagi aku akan menyongsong masa dimana dapat berbagi ilmu bersama kawan-kawan kelas seminar. Laporan telah kusiapkan sebaik mungkin, meskipun dalam proses penyelesaiannya agak terseok-seok. Karena bertepatan dengan itu vonis dokter dibacakan untukku. Tapi apapun itu aku harus mensyukurinya karena adanya TORCH dalam diriku memberikan kenikmatan yang lebih besar daripada kesulitan.

Kelas Seminar berjalan dengan lancar. Presentasi hasil penelitian yang aku lakukan bersama Puput mendapat apresiasi yang cukup baik. Sejak itu banyak teman-teman yang bertanya tentang TORCH. Dan akupun dengan senang hati menjelaskan. Inilah sebenarnya yang aku tunggu-tunggu. Menunggu orang-orang peduli dan ingin tahu tentang infeksi ini. Agar perjalananku untuk mensosialisasikannya berjalan lancar.

Penyakit ini telah memberikan arti khusus dalam kehidupanku. Dimulai dari kerja praktek dan seminar, aku sudah dimudahkan dalam urusan akademis. Dengan menekuni dan memperlajarinya aku merasa semakin kuat dan tegar. Tidak lagi ingin larut dalam kesedihan panjang, tapi ingin bangkit menjadi sosok yang mampu menguatkan orang lain. Ya! Itulah mimpi sederhanaku.

Beberapa hari setelah Presentasi Seminar…

Aku dan beberapa orang kawab dari Pemuda Peduli TORCH menjambangi Klinik Spesialis yang dipimpin oleh Pak Juanda. Kebetulan kami ada urusan terkait dana kegiatan. Dalam waktu yang bersamaan aku paginya konsultasi penyakit bersama beliau, sedangkan teman-teman datang menyusul. Ada berita bahagia dan berita kurang bahagia. Kurang bahagianya karena titer CMV ku naik dan butuh pengobatan secara herbal dengan biaya cukup mahal. Kabar bahagianya,

“Mbak Isti ini mahasiswa Biologi UGM ya? Sudah mau lulus apa sedang skripsi?” Pak Juanda menanyaiku sambil menuliskan anemnes.

“Iya pak, ini baru mau mengajukan skripsi. Tapi masih bingung bahas apa!” jawabku datar.

“Penelitian disini saja! Nanti semua biaya kita bantu. Kami malah senang ada mahasiswa yang mau meneliti disini. Semua data pasien silahkan diotak-atik secara statistik, itu pasti akan sangat berguna untuk kami disini!”

Seakan petir ternikmat menyambarku. Wajahku merah membara dan segera aku balas dengan antusiasme yang penuh. Apakah ini kesempatan baik itu? Ketika aku kebingungan mencari penelitian skripsi, ujug-ujug sebuah instansi menawariku meneliti di kliniknya. Mahasiswa mana yang tidak bahagia? Maka saat itu juga aku putuskan focus mengurus pekara penelitian disana. Dengan semangat membara akan aku selesaikan tugas akademis berat satu lagi, tugas yang seringkali membuat mahasiswa mati gaya. Tugas itu bernama skripsi!

***

Monday, February 20, 2012

PENGOBATAN SEDOT DARAH

Matahari masih terbit dari arah timur, bentuknya sempurna dengan warnya oranye menuju jingga, warnanya agak redup, tidak seperti bisaa—menantang dan menamparkan panas. Pagi ini langkahku akan menuju ke sebuah tempat pengobatan atas rekomendasi ibu. Tempatnya tak terlalu jauh dari daerah Salemba tempat aku menginap selama di Jakarta. Manggarai, itu nama tempatnya! Berbekal foto peta Jakarta aku berangkat bersama Tiara menuju Pengobatan Tibbun Nabawi milik rekan ibu, beliau benama Ustadz Fatahilah.

Taksi mengantarkan kami tepat di sebuah gang yang tertanam plang ‘Rumah Sehat Herbal Centre’. Akupun bersegera turun, menelusuri gang yang sangat sempit. Tempat pengobatan ini sangat sederhana. Tidak ada ruang tunggu seperti di klinik-klinik pengobatan kebanyakan. Terlihat dari ruangan yang tersedia bahwa pemiliknya sangat zuhud. Kesederhanaan itu terkadang melahirkan kenikmatan sendiri. Sesuatu yang berlebihan itu seringkali akan menyesakkan.

Setelah mengutarakan maksud pada salah satu pegawai, aku diminta untuk menunggu di dalam. Ruangannya tidak terlalu besar, terlihat beberapa tumpukan kardus produk-produk kesehatan. Kamipun duduk disalah satu sudut sambil menanti sang Ustadz datang. Pengobatan ini pernah kudengar sebelumnya dari banyak kawan. Bekam namanya! Pengobatan yang sering dilakukan Rasulullah dan merupakan sunnah. Namun untuk pelaksanaan teknisnya aku belum tahu. Kabarnya sih permukaan kulit akan dilukai dan darisana keluar darah. Konon katanya lagi darah yang keluar adalah darah yang sudah tidak bermanfaat dalam tubuh atau bahkan sudah menjadi racun.

“Isti dari Jogja?” seorang pegawai perempuan mengeluarkan setengah badannya dari sebuah ruangan yang berada tepat di depanku. Segera aku berdiri dan menuju kesana.

“Saya Mbak!” pegawai berkerudung itu tersenyum dan mempersilahkanku masuk.

“Ustadz sebentar lagi kesini, nanti Mbaknya bisa konsultasi langsung.” aku mengangguk dan duduk di ruangan itu. Ruangan yang seperti kamar, namun di dalamnya terletak beberapa peralatan untuk melakukan terapi bekam. Ada dua buah kasur dan beberapa alat bekam yang asing bagiku. Sebuah mangkok kecil yang memiliki ujung dan ada juga alat penyedotnya.

Ustadz dan istrinya datang. Aku memperkenalkan diri dan ternyata mereka berdua sudah tahu tentang maksud kedatanganku. Karena memang ibu sudah menyampaikan lebih awal kepada mereka, kebetulan Ustadz dan istrinya adalah rekan kerja ibu yang kemarin berangkat umroh bersama.

Ustadzpun memintaku berbaring diatas dipan, dalam ruangan itu ada pegawai perempuan tadi yang kukenal namanya Mbak Imar dan ada istri Ustadz yang akrab dipanggil bunda. Saat itu aku pasrah saja, tak tahu apa yang akan dilakukan Ustadz sebenarnya. Mereka menyebut terapi ini adalah Qiro’ atau pembetulan sendi. Mungkin semacam pijat. Tapi setelah aku mencobanya ini lebih dari sekadar pijat bisaa. Sakit dan nyeri. Saat itu berteriakpun aku tak kuasa, karena hanya akan membuang energi. Ada beberapa syaraf yang dibetulkan. Setelah itu Ustadz meminta pegawainya untuk membekamku. Ada bagian-bagian yang aku tak paham karena memang menggunakan bahasa arab.

Setelah Ustadz keluar dari ruangan itu, pegawai perempuan memintaku untuk bersiap dibekam. Atas perintah Ustadz, titik yang akan dibekam adalah titik yang terletak di kepala.

“Kalau dibekam dikepala, berarti?” aku bertanya ragu sekaligus cemas.

“Dibotak!” jawaban singkat yang membuat jantungku berdesir. Sesaat aku terdiam dan tertunduk lesu. Antara setuju dan tidak. Namun, bisa jadi ini adalah solusi terbaik untuk menyembuhkan penyakit yang sedang kuderita.

***

Apapun bentuk macam pengobatan sesungguhnya itu adalah bagian dari ikhtiar. Bisa jadi disalahsatu pengobatan yang kita lakukan ada jawaban kesembuhan dari Allah. Karena tak ada satupun penyakit yang tak ada obatnya. Dan keputusan besar ini harus aku ambil. Sebesar apapun resikonya kelak harus dapat dipertanggung jawabkan.

Teringat olehku nasihat seorang kawan tentang ‘berani mengambil resiko dalam kehidupan. Terkadang dalam hidup sikap selalu berada pada zona nyaman bukanlah pilihan yang baik. Sesekali kita perlu mengambil resiko dari tindakan yang kita pilih. Tentu keputusan yang masuk akal. Jangan sampai kita melakukan hal konyol hanya dengan bermodalkan ‘berani mengambil reiko’. Semua tentu harus ditimbang kadar baik dan buruknya. Saat inilah kesempatanklu untuk menjalankannya, mengambil sebuah keputusan untuk kebaikan dimasa depan dan siap menerima resiko dari hal kecil sampai resiko terbesar sekalipun.

Setelah mendapat izin dari orangtua maka semaki kuat tekadku untuk sembuh. Dan pengobatanpun dimulai. Pengobatan yang aku berinama ‘Pengobatan Sedot Darah’.

Benda yang berbentuk mangkuk itu ternyata bernama ‘cup’ yang digunakan bersamaan dengan alat penyedotnya. Mula-mulai minyak zaitun yang dipanaskan dioleskan dipermukaan kulit yang akan dibekam. Diawali dengan basmallah dan dipijat terlebih dahulu agar peredaran darah lancar dan memudahkan darah kotor menuju titik pembekaman. Lalu setelah itu barulah cup tadi diletakkan diatas permukaan kulit dan seketika bagian itu tersedot. Rasanya?—sakit dan perih.

Setelah ditunggu beberapa lama dengan rasa nyeri yang membuat dada sesak, cup itu dilepaskan dan disekitar lingkaran yang tercetak telah terkumpul darah kotor. Ini ditandai dengan warna hitam pada bekas cup. Aku merinding menyaksikannya, karena memang aku duduk di depan cermin yang besar. Dimana kita bisa melihat sendiri prosesnya. Belum lagi lega melepas rasa sakit paska di’cup’. Tiba-tiba jarum kecil menusuk-nusuk permukaan itu dan kepedihanpun semakin jadi. Aku tahan sekuat-kuatnya. Jangan sampai ada kata menyerah. Karena ini adalah ikhtiar!

Setelah luka yang dibuat oleh jarum kecil itu dirasa cukup. Kembali cup ditaruh dipermukaan kulit dan disedotlah kembali. Rasanya semakin jadi, apalagi menyaksikan langsung darah yang tersedot. Warnanya merah kehitaman, sangat pekat dan tersedot begitu saja, dalam hitungan menit sudah penuh ‘cup’ itu dan kembali diulangi sampai darah yang dikeluarkan sedikit.

Berbeda rasanya setelah ini, ada sebuah kelegaan diantara perih. Sudah mulai terasa nikmatnya ketika darah kotor keluar. Mbak Imar melihatkan padaku darah didalam cup itu. Sungguh, aku terpana melihat seonggok gumpalan darah yang mirip dengan anatomi liver manusia. Kenyal seperti agar-agar! Dan itu tidak hanya sedikit, tapi banyak. Jika semua darah itu ditampung, mungkin bisa 1-1,5 liter darah kotor yang keluar dari seluruh permukaan kulit. Sebwgitu banyakkah racun dalam tubuhku?

Lebih dari 20 titik dibekam. Rasa tubuhku sudah sangat lemas. Namun aku yakin setelah ini akan lebih baik. Dan memang betul! Rasa tubuhku 3 hari setelah bekan enak sekali, serasa enteng tak ada beban. Memang betul apa yang Allah sampaikan dalam surat Al-Insyirah : Fa Inna Ma’al Usrii Yusraan, setelah kesulitan itu pasti akan datang kemudahan. Tinggal bagaimana kita mau berjuang untuk menghadapi kesulitan dan setelah itu baru dapat menikmati kemudahan.

***

Pengobatan sedot darah ini telah kulalui selama 3 hari. Ikhtiarku tidak akan berhenti disini. Karena tubuh ini adalah amanah terbesar dari Allah. Untuk melihat kebesaran Allah sebenarnya tak perlu kita melihat jauh-jauh. Lihatlah diri kita sendiri. Ketika kita saja tidak bisa menjaga amanah tubuh ini, bagaimana kita bisa menjaga yang lain. Karena yang ada didalam tubuh manusia itu hanyalah kebesaran pencipta. Ketika kita abai dan lalai maka itu pertanda bahwa kita tidak bersyukur atas nikmat Allah. Sudahkah kita menjaga kesehatan dengan baik? Jawaban dari pertanyaan ini harus sering kita renungi dan evaluasi. Jangan sampai kita menjadi makhluk yang dzalim terhadap diri sendiri.

Saturday, February 18, 2012

PEMUDA PEDULI TORCH

Masjid Kampus UGM, 29 Juni 2009.

Siang mulai menyengat kulit, hari ini aku dan 3 orang teman akan bertemu di Maskam. Kami putuskan hari inilah akan membahas tentang pendirian sebuah komunitas sosial kesehatan dengan fokus pada infeksi TORCH. Berangkat dengan beberapa lembar kertas berisi plan mapping akupun berangkat menyambut niat baik ini. Whisnu, Dyah, dan Sobat tiga orang kawan yang aku dapat dari komunitas kepenulisan FLP. Kebetulan kami berada dalam satu klub penulisan, yaitu penulis rabu. Ide mendirikan sebuah komunitas ini berawal dari sebuah ajakan iseng. Alhamdulillah ketiga orang kawanku ini memberikan antusiasme yang cukup besar.

Komunitas ini kami beri nama “TORCH Care Youth Community” dengan sistem close recruitmen untuk sementara waktu. Saat itu kamipun segera membuat susunan komunitas. Untuk posisi ketua teman-teman memberikan kepercayaan untuk aku yang memegang. Sedangkan wakil ketua oleh Mas Dwitya Sobat Ady Dharma, sekretaris Dyah Setyowati Anggrahita, dan Bendahara Whisnu Febri Afrianto. Empat orang saja sementara ini sampai kami menemukan beberapa orang dari hasil recruitmen. Segera kami melakukan lobi sana-sini kepada beberapa orang terdekat untuk mendaftar menjadi anggota. Saat itu hanya via pesan singkat dan lobi personal. Alhamdulillah saat itu terkumpul sekitar 30 orang!

Diantara 30 orang itu ada beberapa yang siap membantu dalam persiapan pertemuan perdana komunitas ini. Sederhana saja dan tidak begitu berambisi. Sedangkan biayanya kami tanggung bersama pakai kantung sendiri. Berdasarkan pertimbangan yang matang akhirnya kami memutuskan untuk melaksanakan pertemuan perdana di Moeslem Centre UNY yang berada dibelakang Masjid Mujahidin. Saat itu tidak cukup banyak yang datang, namun itu tak masalah bagi kami. Sebuah komunitas itu memang berangkat dari yang sedikit.

Hasil dari pertemuan itu adalah perubahan susunan komunitas. Kami berempat saat itu mengharapkan dapat membuat komunitas yang merangkul seluruh anggota, bukan komunitas ekslusif. Tidak ada senioritas ataupun orang yang lebih berhak. Semua memiliki hak yang sama, baik anggota lama ataupun baru. Dengan komunitas inilah aku mengawali karir untuk mencapai suatu impian masa depan yaitu Indonesia terbebas dari infeksi TORCH. Langkah apapun akan aku lakukan untuk tujuan ini. Karena dengan inilah aku memiliki harapan untuk bertahan lebih lama. Dengan inilah aku bisa kembali bersemangat dan tetap tangguh menghadapi apa yang akan terjadi didepan.

***

Waktupun membawaku berjalan menuju tujuan itu, kadang sendiri kadang bersama-sama. Karena memang bukan perkara mudah membentuk suatu komunitas yang non profit. Tidak ada keuntungan dalam komunitas ini yang ada hanya aktifitas sosial sebagai tabungan pahala untuk berangkat ke surgaNya. Ini adalah pekerjaan sosial yang menuntut diri kita menjadi sosok relawan yang sesungguhnya. Aku teringat dengan kata-kata yang sering aku ucapkan sendiri sebagai kata penyemangat dalam menjalani proses karir ini.

“Selagi kita masih memikirkan kepentingan diri kita sendiri, jangan harap kita mampu memikirkan kepentingan orang lain.”

Langkah ini harus aku pupuk setiap harinya, agar jangan sampai ada langkah yang tercecer apalagi tertinggal. Aku terus berlari berusaha mengejar mimpi, meskipun terkadang harus berhenti. Tapi bagiku berbuat itu perlu, walaupun hanya seorang diri tak masalah, hal terpenting adalah niat perbuatan itu. Terkadang sebagai manusia kita terlalu egois hanya sibuk dengan urusan untuk mengejar masa depan yang sukses, untuk memperkaya diri sendiri dan menjadikan pribadi nomor satu secara materi. Tanpa mencoba untuk memikirkan kepentingan orang banyak. Apalagi memikirkan kesejahteraan mereka, mengorbankan waktu saja kita masih kikir, apalagi mengorbankan materi.

Pelbagai macam upaya kami tempuh dalam masa rintisan ini. Memang tak mudah membangun sebuah komunitas, tapi yang kami tahu adalah kami memiliki mimpi yang baik dengan komunitas ini! Aku percaya pasti ada jalan untukku kelak, hingga aku dapat sampai pada impianku. Rasanya dengan penyakit ini aku ingin sorakkan ke seluruh dunia bahwa mereka semua harus tahu apa itu TORCH? Dan mereka juga harus mampu menjaga diri agar tak ikut terinfeksi sepertiku. Selain itu akupun ingin mengabarkan kepada seluruh penderita TORCH bahwa kita masih memiliki harapan untuk berbuat banyak. Kesedihan yang berlarut bukanlah jawaban atas ujian ini, bangkit dan lawan itulah jawabannya!

Kami mulai kegiatan dengan mendatangi donatur untuk beberapa kegiatan awal. Namun, tidak selancar yang kami duga. Ada beberapa hambatan yang akhirnya beberapa acara tidak berjalan lancar. Tapi tidak masalah sama kali! Karena masih banyak kesempatan didepan sana. Salah satunya adalah mengikutkan kegiatan ini di Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).

Seorang kawan bernama Fajar Sofyantoro mengajakku untuk membentuk tim dan mengangkat tema ini dalam usulan PKM. Akupun menyambut baik tawaran itu, dengan cepat kamipun mulai bergerak dengan jadwal yang rapi. Tim kamipun terbentuk. Aku, Fajar, Rizko, Sisca, dan Raden Aditya. Kami berlima siap menjadi salah satu peserta dalam kegiatan bergengsi itu. Bersamaan dengan itu komunitas yang kubentukpun mulai eksis dijejaring sosial, dan harapanku saat itu ini bisa menjadi bagian kegiatan komunitas yang akhirnya kami sepakati dengan nama ‘Pemuda Peduli TORCH’ agar lebih nasionalis karena menggunakan bahasa Indonesia.

***

Satu bulan sudah berlalu. Pengumumanpun digelar online. Fajar mengirimkan pesan singkat, “Lihat segera di internet, pengumuman sudah ada!”. Akupun bergegas membuka halaman yang ia minta. Hatiku sudah tak karuan. Degup keras untuk sebuah harapan. Jika ini lolos maka akan benar-benar ada jalan menuju impian masa depan itu. Dan jawabannya adalah kami lolos! Program Desa SIaga TORCH siap diwujudkan bersama!

Tanpa kusadari airmatapun menetes begitu saja. Apakah ini jalan yang Allah berikan untukku? Untuk sebuah harapan masa depan. Aku bahagia sekali saat itu dan aku berjanji akan berbuat sebaik mungkin dalam program ini. Karena ini adalah jalan awal untuk sebuah cita masa depan. Bersama kawan-kawanpun aku bergerak! Alhamdulillahnya sambutan mereka baik, bahkan kami mengadakan penerimaan panitia untuk penyelenggaraan program Desa Siaga TORCH. Selain itu bantuan kawanku Mas Sobat sangat berarti, karena kami akan menjalankan program itu di kampong beliau, Desa Mungkid namanya. Terletak di kabupaten Magelang dan dapat ditempuh kurang lebih 1 jam dengan sepeda motor. Ahh—ada tugas sosial yang mengasyikkan menantiku disana!

***

Banyak kegiatan yang telah kami gelar bersama. Selain itu komunitas kami yang dulu masih terseok-seok sekarang sudah mampu merangkak perlahan. Aku tak mengharapkan proses yang singkat. Karena pasti sesuatu yang baik itu harus berjalan perlahan namun tetap ada perencanaan yang tepat. Aku yakin suatu saat komunitas ini akan maju dan besar seperti banyak komunitas kesehatan yang menjadi yayasan. Suatu saat itu akan terjadi! 5, 10, atau 15 tahun lagi. Asalkan dengan satu catatan, yaitu tetap dalam semangat yang sama. Karena krisis yang paling mengancam komunitas ini adalah krisis semangat!

Kini Pemuda Peduli TORCH hampir masuk 2 tahun masa penyesuaian. Pasang surut terjadi, tapi itu wajar. Menemukan relawan sebenarnya itu bukan perkara gampang. Aku memiliki arti sendiri tentang ‘relawan’, bagiku itu adalah sebaik-baik panggilan sebagai makhluk sosial. Namun relawan seperti apa? Tentu relawan yang ‘rela’ berkorban waktu, materi, dan tenaga untuk sebuah kebaikan dan tanpa mengharapkan apapun. Itulah relawan dan aku ingin menjadi seperti itu. Sampai napas ini terputus aku ingin dikenal sebagai seorang relawan. Tepatnya relawan TORCH!