Thursday, November 27, 2014

RESENSI FILM 7 HARI 24 JAM

Resensi 7/24 (The Foundation of Everything is a Good Family)

Jika anda baru menikah, atau akan menikah, atau telah lama menikah, saya sarankan untuk meluangkan waktu mengisi akhir pekan anda dengan menonton film yang diperankan oleh Dian Sastro dan Lukman Sardi ini. Kisah cerita drama keluarga yang ringan dengan bungkusan komedi. Namun, dapat membawa kita pada satu titik, "Mengapa Allah menjodohkanku denganmu?"
Mungkin bagi anda yang sudah menikah, seringkali bertanya kepada pasangan, "Mas, kamu cinta nggak sih sama aku?" atau "Mas, kenapa sih kamu mau sama aku?" hal yang sangat ringan untuk dijawab. Tapi dalam film ini diulaskan bagaimana sebenarnya hubungan suami dan istri yang baik. 
Setiap pasangan sebelum berpasangan, tentu hidup sendiri-sendiri dengan impian dan mimpi masing-masing. Pada awal pernikahan, tentu akan ada brain stroming untuk menyatukan visi dan misi. Untuk tahu kamu maunya apa? Aku maunya apa? Tapi, apakah brain stroming itu cukup saat di awal saja? Tentu tidak, proses untuk saling mengenal satu sama lain, butuh waktu yang tidak sebentar, bahkan butuh waktu sepanjang usia. Banyak hal yang membuat kita tidak atau lupa mengerti satu sama lain. Mementingkan rasa ego dan saling menuntut. Dalam kisah Tania dan Tio ini, digambarkan bagaimana menuntaskan suatu cekcok rumah tangga, menjadi bagian yang indah. Ada pelajaran dari setiap permasalahan. Pernikahan tanpa badai itu bohong. Seberapa keras kita menahan badai dan melaluinya, itulah adalah kunci untuk menciptakan sakinah, mawaddah, warrahmah. 

Hal yang membuat saya terharu dalam film ini adalah ketika Tania merasa sangat kesal pada suaminya dan memilih diam, berharap Tio bisa memahami. Sehingga Tio pada akhirnya tersulut emosi dan tanpa sadar menyakiti perasaan istrinya. Disana terlihat ada penyesalan seorang suami atas perkataanya, dan dia mencoba mencari tahu pada sahabat istrinya, mengapa istrinya mendiamkanya lebih dari dua hari? Pada adegan inilah yang membuat saya menangis. Ketika Tio menyampaikan apa yang ia rasakan. Tentang seberapa dalam ia mendukung istrinya. Seperti apa bahagianya dia melihat istrinya bisa menjadi wanita karir yang sukses. Dan alasan dia menikahi Tania, "Aku menikahinya karena dia membuatku seperti aku. Dia tidak menuntutku menjad orang lain. Disaat tak ada yang percaya aku bisa menjadi sutradara terkenal, hanya Tania yang menguatkanku dan percaya suatu saat aku bsa menjadi sutradara hebat. Begitu pula aku, aku bahagia jika Tania mencapat titik terbaik dalam karirnya, aku bangga memiliki istri yang hebat." 

Dialog yang kurang lebih itu melayangkan benakku pada sang suami yang telah mendukungku penuh, penuh tanpa celah sedikitpun. Disaat sebagian orang mungkin mencibir keputusanku untuk sekolah lagi, disaat itu pula dia selalu mendukungku. Disaat aku tidak bersemangat lagi melanjutkan studi ini, dia pula yang meyakinkanku mampu melewatinya. Dia yang membuatku untuk kembali membuka buka mimpi yang sudah tiga tahun ini terabaikan begitu saja. Bahkan, aku sempat mengatakan padanya, "Bagiku mimpi terindah adalah mendampingi kalian, keluarga kecilku, Aku tak butuh menjadi siapa-siapa, mimpiku cukuplah akan menjadi mimpi", Lalu dia memarahiku, dia memintaku tidak pernah berhenti mengejar mimpi itu. Hatikupun mulai ragu, antara tanggung jawabku sebagai istri dan tanggung jawabku sebagai manusia sosial. Lalu, dia kembali menguatkan, membangunkan mimpi yang sudah lama tertidur. Dia benar-benar meyakinkanku, sehingga aku kuat, sekalipun banyak tudingan dan cibiran untukku, dia siap menjadi gardu pertahanan paling depan.Jika ada yang bertanya, "Mengapa sekolah lagi? Untuk apa? Lebih baik urus keluargamu." Maka dia sampaikan padaku untuk menjawab, "Katakan, katakan bahwa aku suamimu yang memerintahkanmu untuk sekolah lagi. Karena aku ingin memiliki istri yang hebat. Istri yang tak hanya mengabdikan dirinya untukku dan anak-anakku, tapi kelak akan mengabdikan dirinya untuk bangsa ini." Runtuh keraguanku, mantap langkahku menyosongsong kehidupan ini. Meskipun terasa berat, dan tentu kerikil akan terus ada, badai akan terus datang, tapi dengannya aku bisa kuat menghadapi semuanya. Dia, suamiku yang tak pernah mematahkan hatiku. Dia suamiku yang selalu menyenangkan hatiku. 

Sampai akhir pada film ini, aku terus berurai airmata, kenapa?
Karena aku merasa bersalah padanya. Ketika sempat aku menghalangi apa yang ia cita-citakan hanya karena keadaan. Mungkin dia seperti tokoh Tio dalam cerita ini, mendukung penuh istrinya. Tapi aku tidak bisa menjadi Tania yang mendukung suaminya penuh. Aku terlalu egois atas kepentinganku sendiri. Ah, menyesal tiada berguna. Andaikan waktu dapat aku putar untuknya, untuk menebus rasa bersalahku. Tapi sayang, aku akan selalu mendoakanku, doa agar Allah berkenan memberi jalan (lagi) untukmu meraih impianmu. Kini aku tersadar, sadar yang paling dalam. Suami-Istri itu adalah kawan yang sejati. Kawan yang akan saling mendukung satu sama lain tanpa syarat. Kawan yang siap membela kawannya jika disakiti. Kawan yang siap mengingatkan kawannya jika salah. Kawan yang selalu memaafkan jika kawannya mengecewakan. Perkawanan yang tanpa syarat. Itulah cinta dalam berumah tangga, kekurangamu menjadi PR untukku, bukan untuk mengubahmu seperti apa yang aku inginkan, tapi untuk membuatmu menjadi lebih baik. Begitu sebaliknya, terus dan terus, hingga Sang Pemersatu cinta menilai usaha kita dan keberkahan hidup dunia akhirat sebagai transkrip nilainya. Kelak kita berjodoh lagi di SurgaNya, maka itu adalah penghargaan atas usaha kita, menjadi satu untuk meraih cintaNya.

Ditulis oleh :
Istri lelaki terhebat bernama Prima Agung Saputra

Friday, November 7, 2014

LUKISAN GULITA NEGERIKU

Negeri yang dulu, setiap diputarkan lagu 'Tanah Airku tidak kulupakan...' membuat airmataku jatuh begitu saja. Negeri yang dulu membuatku bermimpi untuk ikut serta menjadi bagian pembangun perdaban. Negeri yang dulu membuatku bangga menjadi anak bangsanya. Negeri yang dulu itu seperti lukisan pagi hari yang cerah penuh semangat, kiranya kini telah berubah menjadi lukisan gelap gulita yang membuatku sulit menghitung sisa cahaya.

Oh Negeriku...
Ketika yang seharusnya mengayomi pendudukmu, kini berubah haluan memorak porandakan jati diri bangsanya. Ketika yang seharusnya membangun karakter dan mental pendudukmu, kini sibuk menghitung rupiah dan melaksanakan tugas sekadarnya. Ketika yang seharusnya menjadi pengingat ketika pemimpinmu terlupa, kini hanya diam dalam keseharian, membiarkan mulut-mulut singa dan macam mengoyak karakter bangsa ini.

Beruntungnya, aku belum malu menjadi bagian bangsa ini, karena mukaku terlampau tebal, hatiku terlampau bebal, jiwaku sudah mati rasa. Aku belum malu menjadi bagian bangsa ini, karena aku tahu masih banyak penduduk negeri ini yang menderita di pelosok, di wilayah timur, di perbatasan. Mereka yang tak tahu dan mungkin juga tak berarti jika mereka mau tahu apa yang sedang melanda negeri ini. Keegoisan manusia-manusia cerdas yang heboh dengan rencananya golongannya sendiri. Yang merasa bangga dengan kehebatan kelompoknya, yang merasa pantas merendahkan orang lain, bebas mengkritik sesuka hati, sehingga carut marut memenuhi setiap sudut negeri ini.
Dari manusia terdidik hingga yang tidak terdidik bersatu membaurkan carut marut. Dari manusia yang santun hingga manusia yang begajul pun bersatu menghoyak pilar negeri ini. Tumpah ruah, berbaur, bersatu bukan untuk membangun bangsa, tapi untuk menghancurkannya.

Sadarkah kita? Ketika mulut kita mengeluarkan protes dan kritik, atau jari kita melahirkan tulisan yang secara substansi tidak beretika, bahwa kita sedang menjadi bagian dari kehancuran negeri ini. Ketika perbedaan menjadi kebahagiaan, dan ajang untuk saling menjatuhkan. Ketika dendam menjadi sangat manis untuk segera dibalaskan. Lalu jadilah kami anak bangsa penonton yang baik, karena karakter carut marut itu kami praktikkan dikeseharian. Dimana banyak anak bangsa senang sumpah serapah sesamanya, senang berlari dijalanan melempar apapun sesukanya, senang melakukan hal-hal ini. Kenapa? Karena negeri pahit ini telah kehilangan fungsinya. Generasi tua semakin menggila, yang berusia sulit bijaksana, yang harusanya sudah duduk manis memberi nasihat, masih gila kekuasaan. Anak-anak muda bangsa ini sudah ternoda, jika ia cerdas dan apatis maka terlayang untuk pindah negara. Jika ia masih menyimpan sisa nasionalisme, maka mungkin akan bertahan dalam kekecewaan.

Kita patut bersedih, bahkan meraung sesegukan kala melihat lukisan pagi yang cerah berubah menjadi lukisan gulita yang hampir tak ada berkas cahaya. Negeriku, aku rindu padamu yang dulu, aku rindu gagahnya para pemimpinku, aku rindu rendah hatinya para pejabatku, aku rindu tutur santun mereka. memang tidak sempurna, tapi yang dulu bagiku lebih baik, sekalipun impianku untuk itu masih jauh. Tapi kita dilahirkan untuk jadi orang yang realistis bukan untuk jadi yang sempurna.

Isti Anindya

Tuesday, November 4, 2014

CATATAN KECIL UNTUK ANAKKU


Dear Anakku Fayyaza Ameera Pasia,

Kelak dikau sudah bisa mengucapkan, "Terimakasih!", ucapkanlah pada Imuk dan Atuk. Karena mereka, Ayya ada.
Karena mereka, Februari 1989 mereka bersuka cita mendapat kabar adanya calon janin yang belum bernyawa. Lalu Allah hembuskan ruh kedalam janin itu dan mereka jaga dengan sebaik baik penjagaan. Mereka cukupkan nutrisi untuk si janin. Hingga, 21 November 24 tahun lalu, si buah hati itu lahir ke dunia dengan suka cita. Dengan perjuangan hidup dan mati. Dan iapun dirawat dengan sangat baik, dibesarkan dengan kasih sayang. Diberikan makanan yang halal, diberikan pendidikan yang layak. Hingga anak itu tumbuh menjadi gadis kecil yang menyenangkan. 
Merekapun menanamkan banyak hal baik pada gadis pertama mereka. Menaruh harapan besar. 

Dan sampailah pada saatnya Anak itu tumbuh menjadi manusia dewasa. Berpikir dengan pola pikirnya, dan sudah mampu melawan dan berdebat dengan orangtuanya. Mungkin ia terlupa bagaimana susah payah dengan keringat dan darah orangtuanya membesarkannya, mungkin ia terlena dan merasa angkuh dengan dunia yang telah mampu digenggamnya, mungkin ia merasa besar karena ilmu yang dimilikinya, tanpa ia sadar ada orangtua yang menyebabkan kepemilikan ilmu itu. 

Nak, setelah dikau mampu mengucapkan "Terimakasih!" Maka setelah itu belajarlah mengucapkan "Maaf!", lalu sampaikan Maaf Ummi kepada mereka, Imuk dan Atukmu.
Maaf jika Ummi belum bisa menjadi apa yang mereka harapkan. Maaf jika di usia 24 tahun ini, Ummi belum jua mewujudkan mimpi mimpi mereka. Maaf jika waktu yang sudah terhabiskan begitu saja tidak membahagiakan mereka. 

Nak, karena mereka telah membesarkan ummi dengan keikhlasan luar biasalah, kamu ada...
Nak, karena mereka mendidik Ummi dengan baiklah, kamu ada...
Maka berterimakasihlah pada mereka. 

Hari ini adalah saat saat Ummi mengenang perjuangan Imuk melahirkan Ummi. Seperti nanti setiap tanggal 1 Januari menjadi memory untuk Ummi mengingat kelahiranmu. 

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk : Kisah Cinta Terhalang Adat

Resensi Film

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk : Kisah Cinta Terhalang Adat

Oleh : Isti Anindya

Berat memang memvisualisakan sebuah karya tulis menjadi karya sinema. Namun Sunil Soraya dan kawan kawan sangat berhasil menyajikan karya yang nyaris mirip dengan manuskrip fenomenal karya Buya Hamka. 
Jika banyak orang yang memprotes masalah pakaian tokoh Hayati yang dianggap kurang pantas. Bersama sama bisa kita tengok kembali Novel karya Guru Besar HAMKA. Memang seperti itulah penggambarannya. Tidak ada yang direkayasa untuk kepentingan bisnis. Adapun adegan adegan ciuman, memanglah ada di dalam buku. Karena memang novel ini adalah sebuah roman. Roman yang bercerita tentang cinta yang dirumitkan oleh adat.
Zainuddin yang tak bersuku, ayahnya menikahi gadis berketurunan bugis. Sehingga terbuanglah ia dari suku Minang. Karena silsilah terputus pada dirinya. Nasib malang pula, di Makkasar Zainuddin tak pula diakui sebagai orang Bugis. Jejaka yang tak bersuku itupun memutuskan merantau ke Dusun Batipuh, hendak melihat tanah kelahiran Ayahanda dan menuntut ilmu agama. Penggambaran setting zaman dahulu cukup cerdik dengan mengubah tone warna pada visualisasi. Dan diperkuat dengan properti tahun 1930-an, cukup ditail. Disanalah Zainuddin bertemu Hayati, si gadis yang kelak di puja pujanya. Karena disana Zainuddin tak berkawan, dikucilkan karena hanya anak pisang. Bukan siapa siapa. Dalam hal ini penggambaran tentang adat minangnya begitu tajam. Jelas dengan dialeg ya asli, tidak dibuat buat. Pemeran utamanyapun menguasai dialeg dan bahasa satra dengan baik. Skenarionya sebahagian besar diambil dari dialog di Novel. Bukan dikarang karang, tapi di jeplak. Maka dari itu saat menonton tidaklah berkurang nilai kesustraannya.

Dalam hal ini, masyarakat Minang benar benar tersentil dengan adanya aturan adat yang bagi sebagian orang umum itu konyol. Bahwa perempuan minang hendaklah menikah dengan lelaki yang bersuku. Karena jika tidak, "Kama beko anak kau ka babako?" Begiu dialog sang mamak saat memarahi Hayati yang menyatakan bahwa ia cinta pada Zainuddin, lelaki tak bersuku.
Ada aturan adat yang diputuskan bersama, berunding, namun terkesan membawa kepentingan masing masing. Yang tua, yang berada, yang berkuasa. Akhirnya sang terdakwa mengalah pada keadaan. Hayatipun disunting lelaki asli minang nan kaya raya bernama Azis, namun buruk akhlaknya. Karena ia penjudi dan terkontaminasi budaya belanda. Menikah dengan Azis, Hayati mengubah penampilan menjadi gadis kota. Dalam pengabdiannya pada suami itu, Buya Hamka hendak menyampaikan pesan. Begitulah hakikatnya seorang istri. Apapun yang terjadi, tetap suami di nomor satukan. Sekalipun hati tak karuan. Bila sudah menikah makah hati sepenuhnya untuk suami. Tak ada cinta yang lama, berusaha mencintai si suami dan mengabdi.
Sekali lagi, penggambaran khas adat Minang jelas dan tegas, saat sang istri benar benar harus tunduk pada suami, tak boleh sedikitpun salah. Begitulah di Minang, lelaki bak dewa.

Bersamaan dengan itu Zainuddinpun melarat hatinya sampai tersakit sakit. Disaat adegan ini akting Herjunot Ali dapat diacungkan jempol. Dialog yang ia lontarkan asli dari novelnya. Mimik wajahnya sungguh menyayat hati.
Setelah bersusah payah bangkit dari jurang kematian, Zainuddin pun bangkit dan dikuatkan oleh Muluk, pemeran pembantu yang sangat kuat karakternya. Menjadi pengiring cerita. Dan mereka memutuskan hijarah ke batavia. Disanalah titik balik dan klimaks dari cerita ini. Saat Zainuddin bangkit, bangkit yang sebenar benar bangkit. Menjadi penulis besar dan berjaya. Dan pindah ke Surabaya.
Disanalah semua terawali kembali, saat Hayatipun pindah bersama suaminya ke Surabaya. Saat iapun membaca karya karya penulis berinisial Z. Dan Zainuddin mengubah nama menjadi shabir. Sampai pada pertemuan mereka saat acara kelub sumatera. Disinilah kiranya visualisasunya kurang masuk akal. Pada masa itu begitu mewah kiranya penggambarannya.

Saat bertemu dengan kekasih lamanya, Hayati merasa tak tentu. Disaat itu pula azis suaminya berusaha mengikat persahabatan dengan maksud meminjam uang. Karena mereka mulai melarat. Sampai akhirnya menumpang di rumah zainuddin.

Pada bagian ini Buya Hamka hendak menyiratkan, sekalipun mereka satu atap, dan sekalipun masih ada cinta. tapi mereka mampu menjaga pergaulan yang jauh dari zina. Bahkan Azis menitipkan Hayati pada Zainuddin dengan alasan ia hendak mencari kerja. Selama sebulan bersama sama dalam satu rumah, mereka mampu menjaga diri. Hayati bersikap seperti perempuan yang bersuami. Begitupun Zainuddin yang teguh pendirian. Sampai pada Aziz bunuh diri dan menceraikan Hayati dan menyerahkan pada Zainuddin.

Dalam adegan ini benar benar tangguh dan luarbiasa, saat Zainuddin memilih memulangkan hayati saat Hayati menyerahkan sepenuhnya dirinya pada lelaki yang cintanya sudah kembali. Namun Zainuddin teguh berbalut dendam mengatakan "Pantang memakan yang bekas". Rupanya Zainuddin menjadi begitu keras hati dan memilih memulangkan hayati ke tanah minang.

Pulang dengan Kapal termasyhur Van Der wijk. Zainuddin tak mengantar, hanya Muluk yang membersamai Hayati. Berat awalnya hati hayati hendak melangkah. Rasanya ada firasat hendak tenggelan di lautan. Dan betul saja. Saat Zainuddin mengutuki perangainya yang memulangkan Hayati, disaat itupula kapal karam dan tenggalam. Bertemulah sepasang kekasih ini di Tuban, dalam keadaan hayati yang sekarat. Adegan di rumah sakit ini yang membuat penonton haru biru. Saat dialognya benar benar hidup. Dan itu persis dengan isi novelnya. Titik yang membuat penonton menangis adalah saat Zainuddin membacakan dua kalimat suci sebanyak 3 kali ditelinga Hayati. Dan saat hayati pergi, angle shoot yang dipilih dan sound yang diputarkan menguatkan hasrat menangis haru. Sampai hendak berdiri memberi tepuk tangan. Karena pada bagian ini sungguh dramatis.

Pada endingnya film ini, Zainuddin menulis lagi dan bangkit lagi. Namun pada kisah di Novel, Zainuddin setelah Hayati pergi ia mengalami pesakitan sampai akhirnya meninggal dan dikubur di sebelah Pusara Hayati. Ending yang digubah oleh penulis skenario, mungkin bermaksud hendak memberi pesan untuk tetap semangat. Ketika kita jatuh, maka segera bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Seperti itu mereka menggambarkan tokoh Zainuddin.

Pemilihan pemain cukup cerdas, Pevita yang awalnya di 'underestimate' banyak orang, saya pikir dia sukses memainkan peran Hayati. Wajahnyapun terkesan Minang ketika tanpa make up dengan baju kurung dan selendang. Begitu pula Herjunot Ali yang memainkan dialognya dengan dialeg yang sempurna. Saya pikir mereka punya peluang mendapat piala penghargaan. Saya berharap film ini menjadi film terbaik. Dan memang memakan banyak biaya. Menurut saya ini film pertama (transformasi buku ke film) yang sukses. Karena saya penikmat karya Sastrawan legendaris Buya Hamka, dan penikmat film saya ajungkan dua jempol. Direkomendasikan untuk penikmat film drama romantis, penikmat karya sastra lama. Bagi penikmat film action dengan tempo durasi cepat mungkin bagi anda ini akan membosankan karena 2 jam 45 menit.

Sungguh saya tidak kecewa menontonnya. Bahkan sampai saat ini masih muncul kekaguman saya dan keinginan nonton lagi. Bukan karena filmnya, tapi karena ini adalah cerita dari karya fenomenal Buya Hamka yang saya kagumi sejak duduk di menengah pertama. Sejak novel ini menjadi pelajaran bagi saya. Sampai saat ini Novel buluk itu ada. Dan berulang ulang saya baca.

Selamat Nonton!

Gaza, Palestina, Zionist, Israel

#latepost

Bertanya langsung pada yang paham, secara skripsi suami saya tentang Palestina. 

Berikut resume yang saya tangkap. Jika salah, mohon dikoreksi. 

Palestina itu terdiri dari 2 wilayah : Gaza dan Tepi Barat (dimana Al Aqsa berada). Dulu PBB ngeluarin resolusi untuk 54% Bagian Israel, 45% bagian Palestina dan 1% dikuasai PBB (Yerusalem, dan sekitarnya tempat pertemuan 3 agama) Tapi Israel tidak menghiraukan dan tetap mencaplok tanah Palestina sampai sekarang tinggal 4%. 

Berbicara tentang Hamas dan Fatah yang merupakan Partai politik di Palestina. Partai Fatah cenderung berkompromi dengan Israel dan mereka menguasai Tepi Barat yang sudah terisolasi wilayah hasil caplokan Israel. Maka itu presiden Palestina yang diakui adalah dari Fatah. 

Hamas sangat dimusuhi oleh Israel. Karena gerakan merekalah yang 'berani' melawan israel dan tak mau berkompromi. Dan Hamas menguasai GAZA. Dalam partai Hamas memiliki banyak sayap, salah satunya sayap militer Al Qassam. Mereka yang berjuang mempertahamkan tanah Gaza. Jika Gaza berhasil di caplok Israel, maka sebentar lagi mutlaklah seluruh wilayah milik Israel. Jadi, makanya Israel mati-matian untuk merebut Gaza. 

Pertanyaannya, warga negara seperti apa sih yang rela diusir bangsa lain dari tanah kelahirnnya? Seperti kita diusir ke Malaysia misal, meninggalkan kampung halaman, mau nggak? Melepaskan kewarganegaraan? Dari Sisi seorang Muslim, jika Semua dikuasai Israel, apa kita tetap akan bisa melihat masjidil Al aqsa? Yang konon kabarnya sudah mutlak dikuasai israel. 

Apa peran PBB Dan dewan keamannanya? Bagaimana sebenarnya Israel dan zionis itu? 

Mengapa PBB tidak bisa berbuat apa-apa? Karena Dewan Keamanan PBB (5 Negara : Amerika, Inggris, China, Rusia, Perancis) tidak ada yang berpihak secara utuh pada Palestina. Jelas Amerika dan Inggris mendukung Israel. Lalu saya iseng bertanya, "Kalau 5 negara itu 4 negara mendukung kebebasan Gaza?" Kata suami, 1 negara yang tidak setuju bisa mengajukan Veto. Nah kalau mereka 5 negara setuju? Israel bisa dijatuhkan hukuman, bahkan invasi militer dan boycot Produk Israel. Tapi, apa mungkin?
Karena israel tidak pernah takut dengan Negara manapun. Israel adalah Negara yang dibentuk oleh gerakan Zionis. Siapa Zionis? Mereka memiliki kepentingan untuk menguasai dunia dan tentu banyak intrik agama di dalamnya.

Intinya adalah perjuangan Hamas bentuk perlawanan kepada Israel baik sebagai warga negara yang membelah tanah air ataupun sebagai muslim.

Tinggal kita memilih mau melihat dari sudut pandang mana. Jika dipandang dari duniawi, maka gampang untuk kita menyalahkan Hamas atas nama kedamaian, "ngapain juga hamas melawan, kan malah jadi nyusahin rakyat gaza", karena yang ada dalam pikiran adalah hidup nyaman dan tentram (duniawi). Beda jika kita melihat dari sudut pandang orang yang beragama. Ada kepercayaan disana, apa yang tertulis dalam Alquran.

Jadi kita tinggal memilih mau duniawi atau akhirati :)


Belajar Sabar


Dalam hidup ini kita sering jumpai hal yang kita suka dan hal yang tak kita suka. Ketika sedang tetimpa kesusahan hati, kita cenderung mencari tempat untuk berkeluh kesah dengan harapan ada sosok-sosok yang menguatkan. Atau sekadar mengucapkan, "Yang sabar ya!" Itu fitrah manusia. Tapi jika terlalu sering tentulah terasa memuakkan. Karena kita selalu mencari kawan pembenaran. Ada pernah yg bilang pada saya, untuk apa memikirkan 1 orang yang menyakitimu padahal ada 1000 orang yang menyayangimu. Tapi, pada saat tertentu ada baiknya kita mempertimbangkan 1 orang tersebut. Karena hati yang tersakiti mengajarkan kita untuk sabar dan kuat. Kesakitan itu dapat menjadi cambuk untuk kta bisa jauh lebih baik dan belajar dari keberatan orang lain. Tidak lantas egois dan selalu merasa pantas. Padahal masih banyak perbaikan diri yang belum tuntas. 

Janganlah kita selalu mencari zona aman dan nyaman, merasa tidak perlu menerima kesakitan hati dengan mengabaikannya. Perlu suatu ketika rasa sakit itu kita ungkit dalam pengharapan pada Allah, untuk membuat diri semakin hari semakin kuat. Tidak lantas menjadikan kesakitan alasan untuk kita berpayah hati dan semakin mudah di hasud syetan. Sejatinya syetan tan pernah berhenti merayu kita, mempermainkan hati yang pada akhirnya menggelincirkan kita.pada dosa. 

Ada yang bilang, orang sabar itu bodoh dan lemah. Bahkan saya pribadi membenarkan itu. Tapi jika kita mau belajar tentang Sabar. Maka kita perlahan akn tahu ada nikmat ketenangan di dalamnya. Saat hati terlatih untuk menderita, perlahan akan membuat kita lebih kuat dan berhak memperoleh kemuliaan. 

Dan saya ingin belajar SABAR, dan menanti orang-orang menganggap saya bodoh dan lemah, seperti saya menganggap orang-orang sabar selama ini.

DARI MEREKA AKU BELAJAR SEDERHANA

Saya bangga kepada kedua orangtua saya, yang sedari kecil mengajarkan saya hidup susah dan bagaimana cara menuju hidup senang. Hidup senang bukan untuk diri saya sendiri, tapi bagaimana membuat orang lain turut senang atas saya.


Dari kecil, saya hidup dalam kesederhanaan. Tidak mengenal pakaian ber-Merk, turun naik mobil ber-AC, atau makan enak di restoran. Dengan pakaian yang seadanya, jika dapat lungsuran Alhamdulillah, naik sepeda motor bertiga kemana-mana, naik kendaraan umum, dan terbiasa makan masakan ibunda tercinta.

Saya diajari untuk tidak malu karena kita tidak mampu. Saat yang lain punya mainan baru, saya hanya berharap mereka bosan dan meminjamkan. Saya diajari hidup prihatin dan memahami kondisi, belajar tidak banyak merengek. Masih ingat, dulu saya suka minum teh dalam tabung susu ketika ibu bapak saya berusaha mencari tambahan membeli susu. Ketika sudah ada rezeki, bapak mengajak saya membeli sekotak susu ke grosir, betapa bahagianya saya saat itu. Dan terkadang juga hanya air dan gula. Tapi saya diajarkan untuk menikmati saja dan memahami.

Sampai pada saya harus masuk sekolah dasar, dimana disadari ibu dan bapak akan menjadi tantangan yang berat. Karena godaan lingkungan dari anak-anak yang semua serba ada. Tapi, ibu bapak berhasil mendidik saya, tidak ada rasa malu dalam diri ketika naik sepeda motor plat merah dengan bapak, bahkan ada yang pernah menyindir, "Bapakmu tukang ojek ya?" Saya tetap tidak pernah malu diantar jemput Bapak, malah saya bangga, ketika anak-anak yang lain hanya berjumpa bapaknya dimalam hari dan setiap harinya diantar jemput supir. Saya merasa bahagia, untuk apa saya malu?

Lalu, belum lagi godaan di keluarga besar kami yang notabene orang berpunya. Saya diajari mengecap kehidupan mewah, tapi itu tidak lantas membuat saya lupa siapa saya. Meskipun saat itu mungkin saya terliha norak, terlihat terlalu bahagia saat keluar masuk restoran mahal, naik turun mobil ber AC keluaran terbaru, dipinjam dan belikan pakaian berMerk. Saat itu saya menikmati, selepas itu saya sadar. Saya anak seorang pegawai negeri, dan pedagang yang tak lelah menawarkan satu pakaian ke ruma-rumah. Bahkan banyak yang menertawakan, "Ibumu tukang kredit ya?" Tapi saya tidak pernah malu. Meskipun tentu saya bersedih hati.

Dari bapak dan ibu saya belajar, bahwa kita akan dihormati dan disayangi orang lain bukan karena kita kaya, bukan karena kedudukan kita, tapi karena akhlak dan ilmu.
Orang kaya dihargai hanya saat dia kaya, orang gagah Dan cantik disenangi hanya saat dia muda. Tapi orang yang berkahlak baik dan berilmu akan dihargai sepanjang masa.

Hati saya sebenarnya terlecut sejak lama, saat selalu menjadi 'orang yang disuruh' karena kami yang paling tak mampu. Atau mgkn karena kami tidak terlalu cantik. Saat selalu mendapat pilihan terakhir, atau bahkan pilihan terburuk.

Tapi, itu semua membuat saya kuat pada akhirnya. Kuat untuk mengejar cita cita dan menjadi orang yang berilmu. Berusaha memenuhi harapan kedua orangtua saya, untuk turut mengangkat derajad mereka dihadapan banyak orang. Maka itu alasan saya bekerja keras belajar dalam keterbatasan. Hingga saya bsa seperti saat ini, hidup dalam berkecukupan, Alhamdulillah.
Saat duduk di SMA, saya tetap lebih senang pulang dijemput bapak dengan motor ketimbang naik angkot. Bapak saya sempat bertanya kenapa? Alasannya karena saya bangga, tidak semua anak bisa merasakan selalu dekat dengan orangtuanya di zaman super sibuk ini. Saat teman-teman saya sudah dibelikan komputer, saya masih bawa disket kesana kemari dari satu rental ke rental yang lain. Saat teman-teman sudah punya kamera digital, saya masih meminjam kamera roll milik tetangga. Mungkin orangtua saya bisa mencukupkan apa yang saya inginkan, tapi bukan disana poinnya. Belajar! Belajar untuk menghargai sesuatu. Sehingga ketika kamu mendapatkannya, itu tak membuatmu congkak.

Dari kecil saya biasa main dengan anak-anak susah, jauh lebih susah dari saya. Yang makan kerak nasi dan garam. Yang tidur beralaskan tikar bertanya tanah, yang hanya mengenakan singlet karena tak berpakaian. Nyata, semua nyata ketika saya pulang ke kampung tempat nenek berada. Saya senang bermain dengan mereka, saya enggan menaikkan derajad krn saya dari kota. Mereka lebih tulus dari pada orang kaya, yang kadang mendekai jika ada maunya, yang hanya ingin disanjung dan dipuja puja.

Dan kini, setelah sekian lama saya merantau meninggalkan tanah itu, in sya Allah saya akan kembali. Dengan apa yang sudah saya capai. Dan saya tidak ingin menaikkan derajad saya untuk lebih diutamakan karena apa yang saya miliki. Tidak lantas karena suami saya, lantas saya berhak dipuja puja tidak! Tidak lantas karena anak saya, saya pantas merasa lebih baik. Tidak! Ini yang Sangat amat saya khawatirkan. Karena itu akan menyeret saya pada dosa kesombongan.

Pandanglah kami karena ahklak dan ilmu yang kami punya, bukan karena harta dan kebaikan fisik.

Saya tetaplah saya, tidak ada yang berubah.

Terimakasih ibu Elly Rasyanti dan bapak Istanto S. Ismanyang telah memberikan pelajaran hidup berharga untuk kami. Dan inipun akan kami ajarkan pada keturunan kami. Tantangan kami tentu lebih berat, karena anak kami lahir dalam kenyamanan hidup, tapi bukan berarti dia tak bisa hidup bersusah diri sebagai media belajar untuk hidup sederhana.





Ibu Rumah Tangga Kok Mau S2? Buat Apa?


Beberapa orang mungkin menyayangkan keputusan saya untuk lanjut sekolah. Argumennya, kan sudah punya suami dan anak ya urus aja mereka baik-baik. Selesai.

Berasa "gleg" juga tapi beruntungnya saya punya suami luarbiasa! Beliau selalu bilang, jika ada yang menyayangkan bilang aja, "Suami saya kok yang menyuruh saya sekolah lagi!" Lalu saya bertanya, "Emang bener Abi redho?" Lalu suami saya menjawab,"Abi ingin memiliki Istri yang cerdas sehingga mampu mendidik anak anak dengan baik. Abi ingin memiliki istri yang maju. Tidak lantas menjadikan istri hrus selalu berada dibawah kuasa suami. Ummi mampu dan ummi pernah punya cita-cita, Abi hanya ingin mendukung ummi kembali meraihnya."

Meler dengarnya...
Honestly saya sudah comfort jadi Ibu rumah tangga. Tapi disisi lain saya makin Lama makin berasa bodoh. Tak ada pergaulan nyata, adanya di dunia maya. Terkungkung dalam komunitas komplek yang hanya say "hai" dan tidak kemana-mana tanpa suami. Di rumah aja berdua sama si kecil. Sehingga sekarang Ayya sedikit bermasalah sosialnya.

Oleh karena itu, suami saya mendorong untuk saya tes S2 kemaren, menjadi solusi terbaik untuk saya dan anak. Karena anak bisa dimasukkan ke Paud atau day care. Dan saya bisa mengembangkan diri. Beliau bilang, sayang kalau saya punya potensi tapi terkungkung di rumah.

Lalu, LDR memang mudah?
Bagi saya jujur agak berat. Tapi harus saya hadapi karena ke depan hidup lebih berat. Kalau di awal bermanja manja tentu nanti akan tumbuh menjadi ibu yang lemah.

Suami saya sepenuhnya redho atas jalan ini. Saya harap begitu juga dengan Allah. Bahkan suami rela gajinya disisihkan untuk biaya pendidikan saya, maka itu saya berusaha tidak mengecewakan sang suami. Dan beliaupun ikhlas mengirimkan motornya untuk mobilisasi kami di Jogja. Dan rela hidup minimalis disini.

Terlihatkan seperti saya tega betul sama suami? Sudahlah suami urus diri sendiri, ga pakai kendaraan, membiayai pendidikan, dan berkomitmen 1 kali sebulan menjenguk Kami.

"Biarlah orang berpikir kamu Tega sama suamimu, ikhlaskan, lapangkan hati, yang jelas Allah tahu betapa ikhlasnya daku mendukungmu." 

Evaluasi 3 Tahun Bersama

#latepost

Waktu yang terlihat singkat, namun sejatinya telah terlewat dengan banyak hal dan pembelajaran. Tidak akan cukup dengan 3 tahun belajar untuk saling melengkapi, butuh bertahun-tahun untuk menjadikan cinta sebagai kebutuhan. Seperti Habibie dan Ainun, aku membutuhkanmu dan kau membutuhkanku.

3 tahun pertama ini, ada keinginan dan harapan masing-masing pasangan yang belum terpenuhi. Ada kritikan dan saran yang diprogress sangat lambat, karena memang 'aku tahu ku takkan bisa menjadi seperti yang engkau pinta, namun selama aku bernyawa aku kan mencoba menjadi seperti yang kau pinta'

‪#‎MemintadanMenerima‬
Meminta pasangan mengubah sesuatu yang telah mendarah daging memang tak mudah. Maka setelah fase lelah meminta tentu nanti akan masuk fase penerimaan. Nah, itulah yang sulit, menerima sesuatu yang kita kurang nyaman. Tapi, saling berjanji dan saling mengingatkan untuk kebaikan akan menjadi penawar yang baik.

Jangan pernah memaksa pasangan berubah, santun dalam mengingatkan dan selingi dengan banyak pujian. Hargai setiap usaha pasangan untuk bisa berubah menjadi lebih baik.

‪#‎MuliakanPasangan‬

Kebahagian pasangan sebenarnya tidak selalu diukur dari hal materi. Tapi ada hal tersirat yang menggambarkan rasa sayang dan cinta yang sesungguhnya, yaitu ketika pasangan sangat memuliakan kita atau sebaliknya. Itu dapat dilihat dari bagaimana dia bangga menceritakan kita ke kawan-kawannya, bagaimana dia mengenalkan kita pada rekan-rekannya, bagaimana dia selalu ingat pada kita saat kondisi bahagia, merasa tak pantas bahagia sendiri, maka ia akan berusaha berbagi dengan kita.

Bagi seorang istri, mendapatkan apresiasi setelah lelah merawat keluarga adalah hal yang sanggup merontokkan lelah. Bukan apresiasi berupa materi ataupun ucapak romantis. Tapi ketika ia tahu betapa suaminya sangat memuliakan dan mengutamakannya dalam hal apapun. Tidak menjadikan istrinya sebagai beban da nsumber rasa malu. Itu adalah hal terbaik untuk.seorang istri. Saat istri yg sederhana, diperkenalkan dengan kawan-kawan menengah keatas, kalau di sinetron kan biasanya si suami akan merasa malu dan menjadikan istri sebagai pajangan saja. Hal kecil memang, namun akan sangat menampar hati seorang istri.

Maka perlakukanlah istrimu seperti wanita, 'karena wanita ingin dimengerti', memang terlihat seorang istri dan ibu itu tangguh, tapi di titik lelahnya dia akan lemah, dan butuh bahu untuk bersandar.

Danke suamiku Prima Agung Saputra untuk 3 tahun pembelajaran ini. Terimakasih sudah memuliakan kami, semoga kami bisa selalu membuatmu bangga karena memiliki kami.

‪#‎Refleksi3rdAnniversary‬

LAHIRNYA KAWAN BARU



Padang, dikelembutan pagi tepat sesaat setelah aku memberinya makan.

Wajah syahdunya menggelitikku untuk mulai menuliskan sebuah cerita tentangnya.

31 Desember 2012
Keyakinanku tetap kokoh ditempatnya, bahwa semua sudah Allah tuliskan di Lauh Mahfuz. Aku tak perlu risau menunggu, jalani saja. Dokter bilang HPL 16 Januari. Tapi Allah bilang, siapa yang tahu?
Sebelum itu suamiku sempat sharing tentang rencananya dinas ke Banjarmasin dan Jakarta. Kamipun berandai-andai, jikalau pas timing itu anak kami lahir, tentu akan irit ongkos. Maklum masih mulai bernapas jadi tabunganpun seadanya. Ah, tapi kami tepis andai andai itu, kami percaya Allah siapkan yang terbaik. Tapi harap itu tentu ada.

Pagi itu hari senin, di rumah ramai sekali, Fateh dan Nayra berlibur ke Padang. Pagi itu rencana kami mau ke Basko Mall. Namun rasa sakit yg sebenarnya aku juga belum paham, mulai datang teratur. Ibu awalnya santai saja, karena toh tidak ada tanda berupa lendir dan darah. Tapi rasa sakit ngilu si rahim makin dan makin. Akhirnya sebelum jalan-jalan kami mampir ke RS tempat aku konsultasi rutin. Saat diperiksa tentu ada rasa ngarep yg besar, ngarep aja udah ada pembukaan. Tapi memang belum ada, kata bidannya paling 2-3 hari, apalagi anak pertama.

Dan...
kamipun akhirnya jalan jalan ke Basko. Sepupu sepupu kecilku sudah lapar. Seperti tak merasa apa-apa, sakit iya tapi aku tahan dan mencoba tetap biasa.
Setelah hahahihi, makan sana sini. Kamipun pulang, tepat ashar sampai di rumah.

Sampai di rumah, ada order tiket PP untuk 2 orang, dengan menahan sakit tetap aku uruskan. Ini rezeki anakku mungkin. Lumayanlah untungnya.
Makin sore makin jadi, setiap aku keluhkan ke ibu, ibu masih santai. Pikirnya aku lebay kali ya. Karena memang tidak muncul tanda apapun.

Magribpun mulai sampai, aku sudah makin gelisah, walhasil ibu minta tolong ke teman beliau yg bidab untuk datang memeriksa.

Pukul 19.00
Bu Bidan datang, aku diperiksa di kamar dan Alhamdulillah sudah pembukaan 2. Bidan sarankan segera ke RS, karena menurut dia bisa lahir 3-5 jam lagi.

Ibu masih agak santai, karena masih menganggap untuk anak pertama pembukaan itu lama. Tapi atas desakan sekitar, akhirnya jam 8 malam berangkat ke RS. Sebelumnya ibu berikan pelbagai macam makanan, minuman penambah tenaga. Tapi, entah apa yang salah tiba-tiba sebelum berangkat semua isi lambung termuntahkan.

Pukul 21.00
Sesampai di RS jalanku sudah tak beres, menahan sakit yang makin makpol. Langsung saja aku di minta ke ruang bersalin, masih jalan kaki sambil menahan. Ternyata betul sudah pembukaan 2. Dan akupun dikembalika ke ruang inap untuk menunggu, tepatnya menikmati sensasi kontraksi sejati.

Pukul 21.30 di Ruang Inap
Perlahan aku atur napas, kontraksi makin sering, rasanya sudah mulai menggila. Ibu memintaku memakan sesuatu karena barusan muntah. Akupun menuruti semuanya, menjaga untuk tidak membantah. Jangan sampai nanti Allah persulit persalinanku karena menyakiti hati ibu.

Dalam rasa sakit, aku paksakan shalat Isya. Karena bisa jadi ini amalan terakhirku. Melahirkan itu meletakkan satu kaki didunia, satu kaki di akhirat. Sedang shalat tiba-tiba aku muntah lagi. Nah kali ini semua tercengang. Bagaimana mau melahirkan kalau tak ada tenaga?

Sakit makin lama makin jadi, sedangkan kantuk makin hebat. Rasanya ingin tidur barang setengah jam saja. Tapi, sakit sudah hampir tiap.menit. Sakit datang silih berganti. Reda, muncul, reda begitu rhytmenya. Saat rasa itu muncul, rasionalitaa tergadaikan, bahkan ada lintasan pikiran yang meminta menyerah. Namun ketika rasa sakit reda, muncul kembali semangat dan tekad untuk tetap maju sampai perperangan usai.
Dengan badan lemas tak terisi makanan, dan mata yang redup, tetap aku paksakan berjalan, jongkok berdiri, di dalam kamar ruang inap. Awalnya tak kuat, namun karena didorong ibu dan ummi (tante), aku paksakan.

Pukul 22.30
Setengah jam lagi jatah pemeriksaan pembukaan. Namun rasa sakitnya makin hebat. Rasanya ada yang mau keluar dari tubuh ini. Aku tetap paksakan jalan sampai lemas dan sampai pada titik tak kuat, aku meminta segera diperiksa.
Dan...

Sampailah pada pembukaan 5 di jam 11 malam. Mulailah muncul tanda yaitu darah saat sakit tiba. Ternyata memang benar tidak semua orang punya tanda persalinan sama.
Akupun menunggu diruang bersalin. Sempat sebelum itu dokterku menelpon,
"Isti, besok pagi ya di observasi lagi. biasanya anak pertama lama sampai pembukaan lengkap."
Dan beberapa bidan yang stanbypun memperkirakan lahir besok pagi.
Namun...
Sakitpun makin jadi, rasanya dorongan ingin mengeluarkan sesuatu itu semakin besar.
Dan pada pukul 23.30 bidan aku paksa untuk cek lagi. Ternyata selama 30 menit, pembukaan 5 bergeser ke pembukaan 8. Segera bidan menelpon dokter.
Ruangan bersalinpun menjadi sibuk. Semua alat disiapkan. Aku dipasang infus untuk cairan tubuh, karena muntah 2 kali tadi.
Sambil mengamati, sambil menahan sakit. Makin lama makin mantap joss!

Pukul 23.45
Dokter Yoshida pun datang bersama asistennya. Bunyi terompetpun mulai bergema sana sini. Suasana ruang bersalinpun siap menyambut.
Aku masih mengamati sambil menahan untuk tidak mengejan. Menahan untuk mampu mengendalikan diri. Berdzikir, bertakbir.
Sampai pada waktunya, waktu mengejan.
Disinilah momen itu.

Sebuah perjuangan antara hidup dan mati. Terlintas dalam benakku, wajah seorang hamba yang siap melihat dunia. Untuknya aku harus kuatkan apa yang kupunya, agar dia bisa lahir sempurna.
Dalam ketidak kuatan aku munculkan tekad. Dalam ketidak sanggupan aku hadirkan semangat. Hingga akhirnya, pukul 24.00pun terlewati. Aku masih sempat melihat jam. Pergantian tahun sudah terlalui, bunyi terompet menemaniku diakhir perjuangan. Sampai pada 15 menit kemudian. Sesosok tubuh mungil bersih putih diletakkan diatas dada. Dia menangis dan akupun sontak tak mampi berkata. Hanya berkaca kaca. Aku sentuh kulitnya yang masih basah. Aku menangi dengan wajah tak percaya. Bahwa Allah menitipkannya padaku. Allah memberikan redhonya untuk kami saling berkenalan sebagai anak dan ibu.
Putri kecilku hadir sudah, rasa sakit tadi lenyap seketika. Adapun sakit, tapi masih tertahan. Ketika ada yang nyeri aku alihkan rasa itu ke wajahnya.

Selesai.
Persalinan sudah usai. Aku kini masih terkapar di ruang bersalin. Menikmati kelelahan penuh barokah. Ibu dan Bapak masuk mengucap selamat. Akupun masih sempat bercerita tentang apa yang terjadi tadi. Dan tak bisa tidur sampai subuh. Karena kaki yang keram total dan di pasang carteter sebangsa selang urine. Cukup tak nyaman.

Sampai akhirnya subuh datang, aku minta carteternya dilepas dan memilih BAK dengan pispot. Setelah semua dibereskan, aku pindah ke ruang inap. Jalan! Tidak pakai korsi roda. Aku pikir jika terlalu manja nanti pulihnya lama.

Akupun mulai berbenah diri di kamar inap. Menanti si kecil datang untuk disusui. Alhamdulillah tidak ada keluhan berarti, kecuali satu, ambeyen. Ah! Ini pantas aku dapatkan, karena aku lalai dimasa lampau. Tapi benerah deh, ambeyen habis melahirka itu maknyus serba salah. Apalagi aku masih pakai infus. Benar-benar perjuangan. Apalagi ketika memberikan ASI, sakit atas bawah sudah kompleks, sempat membuat menangis. Tapi aku lawan, aku malu sama Allah. Masa sudah diberi banyak kemudahan, diuji ambeyen saja ngeluh. Hah! Aku harus tetap berjuang untuk dirinya. Perjalananku sebagai seorang ibu baru dimulai.
Late post : Memori Melahirkan 1 Januari 2013