Posts

Image
16 Adit, besok aku akan pergi meninggalkanmu. Tapi, aku tak sanggup untuk mengucapkan kata perpisahan ini padamu. Aku tahu, ayah dan ibuku tidak menyukai kamu menjadi sahabat baikku. Mereka berusaha menghancurkan persahabatan ini. Dan, apa yang tadi ayah katakan, telah membuat hatiku sakit. Karena ayah merendahkan kamu, Adit!

A

ku hanyut dalam cerita Pram tentang bagaimana Adit setahun yang lalu. Kami yang bertemu setelah belasan tahun tak bertukar kabar. Tapi, apakah benar Adit membiarkan sedikit ruang dihatinya terisi untuk memikirkanku? Atau dia hanya kasihan dengan nasib Widurinya yang malam. Sahabat yang sangat ia sayangi, yang akhirnya tersakiti oleh keadaan. Aku menarik mundur ingatanku, menuju hari terakhir aku bertemu dengan Adit, sebelum aku menghilang meninggalkannya.
Yogyakarta, 10 Januari 2003 Langit Yogyakarta mendung, angin berhembus sangat kencang. Perlahan rintik hujan membasahi kaca jendela kamarku. Beberapa hari yang lalu pengumuman kelulusan di Perguruan Tinggi Negeri…

NOVEL : TAK SEKADAR JALAN (CHAPTER 11-15)

Image
Doc. Google


11 Aku tertegun duduk di kursi taman, sendirian. Memandang langkah Adit yang semakin menjauhiku. Dia yang enggan menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Dan kini, ia berhasil mengangguku. Benar-benar menganggu.



Windsor Great Park, Virginia Water, UK

“ Kenapa sih Wid, waktu di hutan mangrove setahun yang lalu, kamu enggan menjawab ketika aku menanyakan lebih lanjut tentang hidupmu?” tanya Adit.        “Hidupku tidak seperti hidupmu Dit! Saat itu aku malu saja bercerita sama kamu, dan lagian apa pentingnya kamu tahu kan?” aku menghela napas panjang. Aku berharap waktu segera habis dan pembicaraan kami tuntas disini.        “Wid, aku tahu kok, Ihsan mencampakkan kamu begitu saja setahun setelah kalian menikah! Itu yang membuat kamu malu cerita sama aku? Iya aku, sahabatmu! Oh atau kamu sudah tak menganggapku sahabat lagi?” Adit memang selalu to the point. Apa yang aku takutkan sudah terlanjur ia tanyakan dan aku mau tak mau sekarang harus menjawabnya.        “Dit, menurutmu, a…